Kamis 15 Jan 2026 14:35 WIB

Lebih dari 107 Ribu Hektare Sawah di Sumatera Rusak Akibat Bencana

Pemulihan sektor pertanian menjadi prioritas setelah ribuan hektare sawah terendam.

Rep: Frederikus Dominggus Bata/ Red: Friska Yolandha
Penampakan sawah terendam banjir di Kecamatan Pantai Labu, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara, Ahad (9/11/2025). Curah hujan yang tinggi di Deli Serdang menyebabkan puluhan hektare sawah terendam banjir dan gagal panen.
Foto: ANTARA FOTO/Yudi Manar
Penampakan sawah terendam banjir di Kecamatan Pantai Labu, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara, Ahad (9/11/2025). Curah hujan yang tinggi di Deli Serdang menyebabkan puluhan hektare sawah terendam banjir dan gagal panen.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Kementerian Pertanian (Kementan) mencatat lebih dari 107 ribu hektare sawah di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat terdampak bencana hidrometeorologi yang terjadi pada akhir November 2025. Kerusakan sawah tersebut tersebar dari kategori ringan hingga berat dan berdampak langsung terhadap produksi padi dan jagung di wilayah sentra pangan Pulau Andalas.

Data kerusakan sawah tersebut menjadi dasar penyiapan langkah pemulihan sektor pertanian pascabencana. Kementan menyiapkan anggaran Rp 1,49 triliun dari APBN 2026 serta mengajukan tambahan anggaran Rp 5,1 triliun untuk mempercepat pemulihan pertanian di tiga provinsi terdampak.

Baca Juga

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyampaikan skala kerusakan sawah di Sumatera menuntut respons cepat dan terukur dari pemerintah pusat. “Kementerian Pertanian berupaya membantu memulihkan sektor pertanian di ketiga provinsi terdampak pascabencana, baik dengan mengoptimalkan anggaran APBN 2026 yang tersedia maupun dengan mengusulkan anggaran tambahan,” kata Amran dalam Rapat Kerja bersama Komisi IV DPR RI di Jakarta, dikutip Kamis (15/1/2026).

Berdasarkan pendataan per 13 Januari 2026, luas sawah terdampak mencapai 107.324 hektare. Dari jumlah tersebut, sawah rusak ringan tercatat seluas 56.077 hektare, rusak sedang 22.152 hektare, dan rusak berat 29.095 hektare. Kerusakan tersebut menyebabkan lahan padi dan jagung yang mengalami puso atau gagal panen mencapai sekitar 44,6 ribu hektare.

Kementan menyiapkan anggaran Rp 1,49 triliun untuk rehabilitasi lahan sawah rusak ringan dan sedang, perbaikan jaringan irigasi, bantuan benih tanaman pangan, rehabilitasi kawasan perkebunan, serta penyediaan alat dan mesin pertanian (alsintan), pupuk, dan pestisida. Wilayah dengan tingkat kerusakan tertinggi menjadi prioritas penanganan.

“Untuk sawah rusak berat, diperlukan sinergi dengan Kementerian ATR/BPN terkait penataan ruang serta Kementerian PUPR untuk perbaikan jaringan irigasi,” ujar Amran.

Selain anggaran yang telah tersedia, Kementan mengusulkan tambahan anggaran Rp 5,1 triliun agar pemulihan pertanian dapat berjalan menyeluruh di seluruh lokasi terdampak. Usulan tersebut mencakup rehabilitasi tambahan lahan sawah senilai Rp 3,4 triliun, rehabilitasi kawasan perkebunan Rp 456,4 miliar, bantuan benih hortikultura Rp 19,1 miliar, penyediaan pakan ternak Rp 262,8 miliar, sarana dan prasarana pertanian Rp 674,7 miliar, serta rehabilitasi bangunan dan sarana penunjang lainnya Rp 291 miliar.

Kerusakan akibat bencana tidak hanya terjadi pada sawah, tetapi juga menjalar ke sektor pertanian lainnya. Lahan perkebunan non-sawit seperti kopi, kakao, dan kelapa dalam terdampak seluas 29.310 hektare, lahan hortikultura rusak 1.803 hektare, dan lebih dari 820 ribu ekor ternak tercatat mati atau hilang.

Kementan juga mencatat kerusakan infrastruktur pertanian, meliputi 58 unit rumah potong hewan, sekitar 2.300 unit alat dan mesin pertanian hilang, 74 Balai Penyuluhan Pertanian rusak, tiga bendungan terdampak, jaringan irigasi rusak sepanjang 152 kilometer, serta 820 unit jalan produksi terganggu.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement