REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan kebijakan mandatori biodiesel sepanjang 2025 membawa dampak penghematan devisa hingga Rp130,21 triliun. Capaian itu bersumber dari implementasi penuh program B40 yang menekan impor solar dan memperkuat pemanfaatan energi berbasis dalam negeri.
Kementerian ESDM mencatat pemanfaatan biodiesel domestik hingga akhir 2025 mencapai 14,2 juta kiloliter atau 105,2 persen dari target. Penurunan impor solar tercatat sekitar 3,3 juta kiloliter.
“Penghematan devisa kita sebesar 130,21 triliun,” kata Bahlil saat konferensi pers capaian kinerja Kementerian ESDM 2025 di Jakarta, Kamis (8/1/2026).
Ia melanjutkan, efek berikutnya dari kebijakan tersebut juga tercermin pada sisi lingkungan dan industri hulu sawit. Konversi solar ke biodiesel menurunkan emisi karbon sebesar 38,88 juta ton CO₂ ekuivalen, sekaligus meningkatkan nilai tambah komoditas kelapa sawit melalui pengolahan CPO menjadi biodiesel.
“Pengurangan emisi itu 38,88 juta ton CO₂,” ujar Bahlil.
Kementerian ESDM mencatat peningkatan nilai tambah dari CPO ke produk biodiesel mencapai Rp20,43 triliun sepanjang 2025. Hilirisasi ini memperkuat rantai industri sawit nasional dan menambah manfaat ekonomi di dalam negeri.