Senin 05 Jan 2026 20:43 WIB

Menko Airlangga Ungkap Ratas Dipimpin Prabowo Bahas Finalisasi Tarif AS

Pertemuan dua delegasi berlangsung di Washington DC, AS pada 12-19 Januari 2026.

Menko Perekonomian Airlangga Hartarto di Istana Kepresidenan Jakarta.
Foto: Republika/Erik Purnama Putra
Menko Perekonomian Airlangga Hartarto di Istana Kepresidenan Jakarta.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan, salah satu poin yang dibahas dalam rapat terbatas (ratas) yang dipimpin Presiden Prabowo Subianto terkait perkembangan finalisasi perundingan tarif dengan Amerika Serikat (AS). Rapat tersebut berlangsung di Istana Kepresidenan Jakarta, Senin (5/1/2026) sore WIB. 

Selain Airlangga, Prabowo memanggil sejumlah menteri di bidang ekonomi ke Istana. Mereka adalah Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia, serta Menteri Investasi sekaligus CEO Danantara Rosan Perkasa Roeslani untuk mengikuti ratas.

Baca Juga

Berlangsung lebih dua jam, ratas itu secara khusus membahas finalisasi tarif dengan AS yang akan disahkan pada akhir Januari 2026. "Tadi kita bahas kondisi ekonomi makro, juga progress daripada perundingan dengan Amerika Serikat, mungkin yang lain nunggu besok karena besok ada retret," kata Airlangga kepada awak media.

Airlangga juga menjelaskan, perundingan tarif saat ini memasuki tahap akhir pengecekan dan penyusunan draf perjanjian. Dalam pertemuan berikutnya, tim negosiasi dari dua negara akan membahas poin-poin perjanjian yang lebih detail.

Pertemuan berikutnya antara dua delegasi dijadwalkan berlangsung di Washington DC, AS pada 12-19 Januari 2026. "Itu (tanggal) 12–19. Itu legal drafting detail," kata Airlangga.

Selain itu, Airlangga pada pekan terakhir Desember 2025, juga telah menemui Perwakilan Dagang Amerika Serikat/United States Representative (USTR) Ambassador Jamieson Greer di Washington DC. Pertemuan itu menjadi salah satu upaya untuk finalisasi perundingan terkait tarif impor yang dikenakan oleh Pemerintah AS kepada Indonesia, yaitu sebesar 19 persen.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement