REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) secara resmi memiliki susunan kepengurusan yang melibatkan sejumlah pakar dari luar negeri. Ada sebanyak empat warga negara asing (WNA) yang bergabung di sovereign wealth fund (SWF) Indonesia tersebut sebagai Dewan Penasihat.
Di antara nama-nama tokoh luar negeri yang masuk ke jajaran Dewan Penasihat BPI Danantara, terdapat nama Jeffey Sachs. Ia adalah ekonom AS dan analis kebijakan publik yang belakangan mencuat namanya karena di antara sedikit pemikir kaliber global yang berani lantang menentang aksi genosida Israel di Gaza.
Jeffrey Sachs lahir pada 5 November 1954 di Michigan, AS. Ia merupakan lulusan doktoral di bidang ekonomi dari Universitas Harvard pada 1980. Sachs memiliki pengalaman menjadi Direktur Center for Sustainable Development Columbia University AS (2016—sekarang), juga pernah menjadi Direktur Earth Institute Columbia University AS (2002—2016), Profesor Ekonomi Harvard University AS (1980—2002), dan penasihat ekonomi bagi pemerintah di berbagai negara (1985—2000).
Sachs mencatatkan sejumlah pencapaian, di antaranya menjadi ekonom dan akademisi global terkemuka dalam bidang pembangunan berkelanjutan dan pengentasan kemiskinan. Ia juga menjadi penasihat ekonomi Indonesia pasca-krisis 1998 dan aktif mendorong pertumbuhan berkelanjutan serta kerja sama dengan pemerintah dan universitas.
Sachs menulis sejumlah karya, seperti Developing Country Debt and Economic Performance (1989) yang membahas utang dan ekonomi Indonesia, dan The End of Poverty (2005) yang mengulas strategi pengentasan kemiskinan relevan bagi Indonesia. Sachs juga merupakan penerima Blue Planet Prize (2015) dan Tang Prize untuk Pembangunan Berkelanjutan (2022), serta menjadi penasihat tiga Sekretaris Jenderal PBB dalam kebijakan pembangunan global.

Komentar
Gunakan Google Gunakan Facebook