REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatatkan aksi jual asing atau net sell mencapai hingga Rp 19 triliun dalam dua bulan pertama tahun 2025. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang dari perdagangan pertama di 2025 sebesar 7.164, kini telah menyentuh posisi 6.300-an.
“Aksi jual atau net sell sampai dengan 27 Februari sudah sampai dengan hampir Rp 19 triliun year to date. Tahun lalu kita positif Rp 17 triliun tapi dari kuartal IV kita net sell, sekarang dari Januari hingga Februari saja sudah net sell hampir Rp 19 triliun,” kata Direktur Utama Bursa Efek Indonesia Iman Rachman kepada wartawan di Gedung BEI, Jakarta, Jumat (28/2/2025).
Akibat aksi jual asing tersebut, tak ayal IHSG pun merosot. BEI mencatatkan, dalam sepekan terakhir, IHSG telah mengalami kemerosotan nyaris mencapai 5 persen.
“Dari 21 Februari—27 Februari penurunannya hampir 5 persen, yakni 4,7 persen week on week(wow),” ujarnya.
Menurut Iman, faktor yang menyebabkan kondisi tersebut tidak terlepas dari kondisi global, seperti perang dagang Amerika Serikat (AS), ekspektasi pasar tentang kebijakan suku bunga The Federal Reserve, dan dampak pemangkasan suku bunga Bank of Korea.
Adapun dari domestik yakni utamanya mengenai data penjualan ritel yang mengalami kelesuan. Serta kondisi update laporan keuangan korporasi yang kurang optimal.
Dengan melihat kondisi pasar modal saat ini, Iman menekankan bahwa pihaknya memberi atensi, dan akan mengambil langkah dalam mendukung pasar domestik. Ia mengaku akan melakukan pertemuan dengan para pelaku pasar serta Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada Senin mendatang, untuk kemudian mengambil sikap lebih lanjut.