Senin 27 May 2024 20:52 WIB

Menko Luhut Ungkap Jurus Kurangi Korupsi dan Naikkan Pendapatan

GovTech akan membuat pemerintahan menjadi lebih efisien dan transparan.

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves), Luhut Binsar Pandjaitan.
Foto: Antara/Rolandus Nampu
Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves), Luhut Binsar Pandjaitan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menteri Koordinator Bidang Maritim dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan bahwa Government Technology (GovTech) Indonesia yang bernama INA Digital dapat mengurangi tingkat korupsi di Indonesia dan menaikkan pendapatan negara.

“Akan berkurang korupsi, itu pasti. OTT (operasi tangkap tangan) KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) itu pasti akan berkurang,” ujar Luhut dalam akun instagramnya yang bernama pengguna luhut.pandjaitan, sebagaimana dipantau dari Jakarta, Senin (27/5/2024).

Baca Juga

Menurut Luhut, penurunan angka korupsi tersebut memungkinkan karena GovTech akan membuat pemerintahan menjadi lebih efisien dan transparan. Dengan demikian, barang siapa yang berniat untuk melakukan korupsi akan merasa kesulitan.

“Saya berharap, dengan ini (GovTech RI) akan sangat kurang jumlahnya (korupsi), dan itu akan membuat Indonesia lebih bagus,” kata Luhut.

Ia mengaku malu dengan sejumlah kementerian yang melakukan korupsi, hingga kini sedang diadili.

Adapun sejumlah kasus korupsi yang melibatkan kementerian yakni kasus korupsi Kementerian Pertanian (Kementan) yang melibatkan eks Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo, hingga kasus korupsi di Kementerian Komunikasi dan Informatika yang melibatkan eks Menteri Kominfo Johnny G. Plate.

“Ada kementerian yang korupsi sampai di pengadilan. Cukup memalukan semua itu,” kata Luhut.

Lebih lanjut, ia juga menyoroti potensi kenaikan pendapatan negara melalui aplikasi GovTech. Peningkatan tersebut diakibatkan oleh hadirnya kemudahan berusaha, serta efektivitas dalam melakukan perizinan.

“Misalnya untuk izin hiburan, tidak lagi menjajakan dari satu pos ke pos lain, langsung di sini (GovTech) saja. Sehingga dengan begitu akan efisien,” kata Luhut.

Kemudahan itu diyakini akan menjadi magnet untuk menarik pihak-pihak di industri hiburan dalam menggelar acara di Indonesia.

“Ini akan membawa penerimaan negara yang bertambah,” kata Luhut.

Untuk saat ini, Luhut mengatakan bahwa sektor swasta belum masuk ke GovTech, lantaran pihak pemerintah yang masih melakukan konsolidasi aplikasi untuk sektor publik. Setelah konsolidasi selama kurang lebih setahun, barulah sektor swasta akan dimasukkan secara bertahap, seperti yang dilakukan Singapura.

“Singapura itu hampir berapa tahun baru bisa masuk private sector-nya, setelah mereka betul-betul konsolidasi. Nah, kita sebesar Indonesia ini tidak semudah itu juga, pasti lebih sulit dari Singapura,” kata dia.

Presiden Jokowi Widodo (Jokowi) meluncurkan Government Technology (GovTech) Indonesia yang bernama INA Digital di Istana Negara, Jakarta, Senin (27/5/2024). Peluncuran INA Digital sebagai penyedia solusi terpadu berbagai layanan digital pemerintah, termasuk portal nasional dan layanan terkait infrastruktur, dianggap penting untuk meningkatkan daya saing Indonesia secara global.

sumber : ANTARA
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement