Selasa 02 Apr 2024 09:18 WIB

Tarif Angkutan Udara Deflasi, BPS: Banyak Maskapai tak Naikkan Harga Tiket

Ada maskapai yang meningkatkan jumlah rute dan frekuensi di sejumlah provinsi.

Rep: Rahayu Subekti/ Red: Ahmad Fikri Noor
Pesawat mendarat di Bandara Internasional Juanda Surabaya, Sidoarjo, Jawa Timur, Senin (1/4/2024).
Foto: ANTARA FOTO/Umarul Faruq
Pesawat mendarat di Bandara Internasional Juanda Surabaya, Sidoarjo, Jawa Timur, Senin (1/4/2024).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkapkan pada momen Ramadhan dan Lebaran 2022 dan 2023 kelompok yang biasanya paling dominan memberikan sumbangan andil inflasi pada periode tersebut biasanya adalah kelompok makanan minuman dan tembakau serta transportasi. Meskipun begitu, Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti menuturkan, kondisi pada Ramadhan tahun ini berbeda.

“Berbeda dengan kondisi historis tersebut, pada periode Ramadhan tahun ini kelompok pengeluaran yang memberikan andil inflasi selain makanan minuman dan tembakau yang terbesar kedua adalah perawatan pribadi dan lainnya dengan adil inflasi 0,04 persen,” kata Amalia dalam konferensi pers, Senin (1/4/2024).

Baca Juga

Amalia menyebut, pada Ramadhan tahun ini kelompok transportasi memberikan andil inflasi yang lebih rendah yaitu sebesar 0,01 persen pada Maret 2024. Hal tersebut didorong oleh tarif angkutan udara yang pada Ramadhan 2024 ternyata mengalami deflasi sebesar 0,97 persen. 

“Jika dirinci terdapat 20 provinsi yang mengalami deflasi tarif angkutan udara dan 17 provinsi mengalami inflasi tarif angkutan udara. Sedangkan satu provinsi lainnya stabil,” ucap Amalia. 

Amalia mengungkapkan, penyebab tarif angkutan udara yang mengalami deflasi karena pada Maret 2024 masih sedikit masyarakat yang belum menggunakan moda angkutan udara. Lalu dari sisi suplai banyak maskapai yang tidak menaikkan tarinya. 

“Jadi ini tentunya ada mekanisme supply dan demand dan bahkan ada yang memberikan tarif udara lebih rendah dibandingkan Februari 2024,” ujar Amalia. 

Selain itu juga Amalia mengatakan ada maskapai yang meningkatkan jumlah rute dan frekuensi di sejumlah provinsi. Hal tersebut menurutnya mampu menekan tarif angkutan udara seperti benerapa di antaranya si Bangka Belitung, Pangkalpinang, Jakarta-Bali.  

Amalia menambahkan, kebijakan pemerintah untuk menurunkan tarif angkutan udara di beberapa daerah destinasi pariwisata super prioritas juga berpengaruh. “Hal ini tentunya menyelaraskan untuk mendorong masyarakat bisa berwisata ke daerah destinasi pariwisata super prioritas yaitu Danau Toba, Labuan Bajo, dan Mandalika kemudian Bali dan lain-lain. Tarif angkutan udara di NTT dan Lombok juga terpantau turun,” ungkap Amalia.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement