Selasa 02 Apr 2024 08:19 WIB

Banyak Pesawat Lakukan Perawatan, Pendapatan GMF Aero Asia Melonjak 56 Persen

Aktivitas operasi menjadi kontributor utama.

Rep: Rahayu Subekti/ Red: Ahmad Fikri Noor
Sejumlah mekanik melakukan pengecekan pada mesin pesawat di Garuda Maintenance Facility, Cengkareng, Tangerang, Banten.
Foto: Antara/Fiqman Sunanda
Sejumlah mekanik melakukan pengecekan pada mesin pesawat di Garuda Maintenance Facility, Cengkareng, Tangerang, Banten.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Anak usaha PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk yakni PT Garuda Maintenance Facility Aero Asia Tbk (GMFI) mencatat pendapatan sepanjang 2023 mencapai 373,2 juta dolar AS. Direktur Utama GMFI, Andi Fahrurrozi menuturkan angka tersebut naik signifikan sebesar 56,9 persen dari tahun sebelumnya. 

GMFI juga berhasil mencatatkan pertumbuhan laba bersih dari 3,6 juta dolar AS pada 2022 menjadi 20,2 juta dolar AS pada 2023. “Ini merupakan hasil dari upaya restrukturisasi yang kami terapkan. Hal ini menunjukkan keberhasilan kami dalam membawa Perseroan menuju perbaikan yang mendekati kondisi sebelum pandemi global,” kata Andi, Senin (1/4/2024). 

Baca Juga

Dari segi arus kas Andi mengungkapkan, aktivitas operasi menjadi kontributor utama. Dia mengungkapkan, pekerjaan operasional yang terus menunjukkan peningkatan melalui berbagai proyek yang saat ini masih berjalan. 

Pada tahun 2023, Andi mengatakan segmen bisnis perawatan mesin pesawat menjadi kontributor terbesar pada pendapatan operasional dengan total pendapatan sebesar 102 juta dolar AS. “Ini meningkat secara signifikan dibandingkan dengan pendapatan tahun sebelumnya senilai 24.3 juta dolar AS, ucap Andi. 

Andi menuturkan, peningkatan tersebut sejalan dengan aktivitas reaktivasi engine Garuda Indonesia. Lalu disusul dengan segmen pemeliharaan airframe yang mencatatkan pendapatan sebesar 83,7 juta dolar AS dan layanan komponen dengan total pendapatan 82,2 juta dolar AS. 

“Capaian positif ini merupakan hasil dari upaya restrukturisasi agresif yang dilakukan Perseroan sepanjang 2023, baik terhadap utang usaha dengan pemasok maupun utang bank,” jelas Andi. 

Dia menambahkan, kenaikan laba bersih tahun ini tidak hanya berasal dari capaian laba operasional. Andi mengatakan kenaikan laba bersih juga didorong dari kontribusi pemulihan nilai aset. 

“Hal ini menunjukkan bahwa pencapaian ini masih merupakan bagian dari proses pemulihan perseroan pasca pandemi Covid-19 yang memberikan dampak jangka panjang terhadap industri penerbangan,” ungkap Andi. 

Andi mengungkapkan, saat ini GMFI masih dalam proses pemulihan untuk mengembalikan kondisi usaha. Perseroan juga terus menjajaki berbagai inisiatif untuk meningkatkan ekuitas yang terus digenjot hingga saat ini. 

Dengan melihat pemulihan industri aviasi secara keseluruhan, Andi optimistis strategi dan upaya pemulihan yang dilakukan dari segi finansial maupun operasional akan terus meningkatkan profitabilitas untuk pertumbuhan yang berkelanjutan. Dengan peningkatan pendapatan lebih dari 50 persen yang sejalan dengan meningkatnya capaian net profit, Andi optimistis pemulihan yang GMFI terapkan telah berada dalam track yang benar. 

“Ditambah lagi, laba bersih tahun ini pun menunjukkan peningkatan yang signifikan. Segmen bisnis lain seperti militer dan industrial solutions pun masih menyimpan potensi besar di masa yang akan datang. Ke depannya memang masih menantang, tetapi kami percaya perlahan tetapi pasti GMFI akan mampu mencapai growth yang jauh lebih sustain setelah ini,” ujar Andi.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement