Kamis 21 Mar 2024 04:37 WIB

Gaya 'Frugal Living' Makin Populer, Ini Rumus Hemat Ala Financial Trainer

Ligwina anjurkan pengeluaran gaya hidup penting untuk self rewards

Rep: Fauziah Mursid / Red: Ichsan Emrald Alamsyah
CEO dan Lead Financial Trainer QM Financial, Ligwina Hananto mengatakan, saat ini gaya hidup hemat atau frugal living di kalangan masyarakat kelas menengah semakin populer, terutama bagi kelas pekerja
Foto: Dok Pasir Angin Pas
CEO dan Lead Financial Trainer QM Financial, Ligwina Hananto mengatakan, saat ini gaya hidup hemat atau frugal living di kalangan masyarakat kelas menengah semakin populer, terutama bagi kelas pekerja

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- CEO dan Lead Financial Trainer QM Financial, Ligwina Hananto mengatakan, saat ini gaya hidup hemat atau frugal living di kalangan masyarakat kelas menengah semakin populer, terutama bagi kelas pekerja dan ibu rumah tangga. Karena itu, bijaksana dan lebih strategis dalam mengeluarkan pengeluaran menjadi prioritas. Sebab, selain kebutuhan dasar, yang tidak kalah penting bagi masyarakat saat ini adalah penghargaan diri (self-reward). 

"Apa yang harus kita lakukan dan kita siapkan? Orang yang punya anggaran, dia akan tahu berhematnya buat apa, hemat itu supaya ada untuk pos yang lain sebenarnya itu. Tetapi hemat itu menjadi dibutuhkan karena ada pos lain yang mau kita penuhi," ujar Ligwina dalam Buka Puasa Bersama dan Peluncuran Program ‘Emak Hemat’ Gojek di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Rabu (20/3/2024)

Ligwina pun memaparkan rumus mudah dalam mengelola keuangan yakni 1-2-3-4 persen yakni 10 persen menabung, 20 persen gaya hidup, 30 persen cicilan utang dan 40 persen biaya hidup. Ia menjelaskan, minimum 10 persen untuk ditabung dan investasi, kemudian 20 persen maksimal untuk gaya hidup.

"Jadi kalau bersenang-senang itu boleh, mau nonton, ke kafe, jajan itu boleh tetapi dibatasi maksimal 20 persen. Karena disini kan nggak ada ya yang penghasilannya tak terhingga. Nah makanya sesuai batas penghasilannya," ujar Ligwina.

Sedangkan 3 atau 30 persen dibatasi untuk cicilan utang, kemudian 40-60 persen untuk biaya hidup. Sehingga, ia menilai gaya berhemat perlu dilakukan agar sesuai dengan rumus pos anggaran tersebut.

"Karena kalau kita boros untuk gaya hidup saja, nanti nabungnya nggak ada. Kita boros untuk biaya hidup nanti nabungnya nggak ada. Atau sebaliknya, boros untuk gaya hidup maksain bisa nabung dan cicilan utang tetapi makan susah, jangan dong, makanya supaya tahu mana pos yang bisa dihemat supaya ada pos untuk nabung, gaya hidup tetapi cicilan utang aman," ujarnya.

Bedanya gaya hidup dan biaya hidup, kata dia, gaya hidup adalah kebutuhan yang jika tidak dipenuhi masih baik-baik saja.

Ia pun berbagi beberapa tips gaya hidup hemat yang bisa dilakukan masyarakat seperti menyusun rencana belanja yang matang, mencari substitusi barang yang lebih ekonomis, serta memanfaatkan diskon atau layanan hemat dari platform online.  

Hal ini juga sejalan dengan temuan dari riset NielsenIQ (2023) yang menunjukkan hampir 52 persen masyarakat Indonesia mengandalkan teknologi digital dan berbelanja online sebagai salah satu strategi dalam menjaga pengeluaran, termasuk  untuk menemukan promo-promo menarik. 

"Jadi cara berhemat, liat dari pos yang bisa dihemat, yang paling sering terjadi dan nempel sama pengeluaran. Misal ke kantor naik apa, terus makan siang, pengeluaran yang paling nempel itu makanan dan transportasi. Nah dua pos itu masuk biaya hidup, bukan berarti kita hilangkan pos itu tapi jika kita pandai mencari layanan yang hemat, sehingga bisa mengalokasikan ke pos lain. Pas dengan program Emak Hemat," ujarnya.

Ia meyakini jika ada pos anggaran yang bisa dihemat, maka secara akumulatif bisa membuat keuangan lebih sehat.

"Meski kesannya ah nggak banyak tetapi kalau itu setiap hari, dan setiap hari ada beberapa kali yang dihemat pengeluarannya, maka bisa angkanya akan terlihat besar dan bisa untuk pos anggaran lain," ujarnya.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement