Rabu 20 Mar 2024 00:14 WIB

Unilever dan Starbucks Pangkas Karyawan 

Unilever melakukan spin off bisnis es krimnya guna mengurangi pos biaya dan meningkat

 Tampilan logo Unilever, dipajang di luar kantor pusat PT Unilever Indonesia Tbk. di Tangerang, Indonesia, Selasa, 16 November 2021.
Foto: AP/Tatan Syuflana
Tampilan logo Unilever, dipajang di luar kantor pusat PT Unilever Indonesia Tbk. di Tangerang, Indonesia, Selasa, 16 November 2021.

REPUBLIKA.CO.ID, LONDON -- Unilever, perusahaan pembuat es krim Ben & Jerry’s, sabun Dove, dan Vaseline memangkas jumlah karyawannya. Perusahaan ini meluncurkan  ‘’productivity program’’ yang bakal mengurangi 7.500 pekerja berbasis di kantor di seluruh dunia.

Unilever juga telah mengurangi jumlah karyawannya sebanyak 1.500 orang pada awal 2022. Perusahaan global dengan karyawan 128 ribu orang tersebut berencana berinvestasi di teknologi demi efisiensi dan menghindari duplikasi. 

Baca Juga

Langkah ini diyakini membantu perusahaan menghemat anggaran sebesar 800 juta euro atau 867 juta dolar AS dalam tiga tahun mendatang. 

 ‘’Menyederhanakan portofolio dan meningkatkan produktivitas akan mengembangkan lebih jauh potensi bisnis kami, mendukung ambisi membawa Unilever sebagai perusahan terkemuka dan meningkatkan laba,’’ kata CEO Unilever Hein Schumacher, Selasa (19/3/2024). 

Mereka juga memutuskan melakukan spin off bisnis es krimnya guna mengurangi pos biaya dan meningkatkan laba. Perusahaan yang berbasis di London, Inggris ini beralasan bisnis es krim termasuk merek Magnum, memiliki karakteristik berbeda dibandingkan produk lainnya. 

Selain itu, ungkap Schumacer, akan lebih menguntungkan jika kepemilikan bisnis es krim ini  terpisah karena berpotensi tumbuh lebih baik dibandingkan tetap di bawah perusahaan induk. Spin off ditargetkan rampung pada akhir tahun depan. 

Perusahaan yang memiliki produk mayones Hellman, parfum Axe, dan pembersih Cif ini menargetkan pertumbuhan penjualan mid-single digits setelah memisahkan bisnis es krimnya. Saham Unilever dalam perdagangan Selasa pagi di London Stock Exchange naik 3,6 persen. 

Awal Maret lalu, Alshaya Group, pemegang izin franchise kedai kopi Starbucks juga memangkas ribuan pekerjanya. Ini terkait aksi boikot di negara-negara Timur Tengah terhadap Starbucks karena dianggap mendukung Israel dalam perang di Gaza. 

Dalam pernyataan yang dilansir laman berita CNN, 6 Maret 2024, Alshaya menyatakan, pemangkasan ini merupakan akibat kondisi perdagangan yang terus menerus menantang dalam kurun enam bulan terakhir. 

‘’Ini merupakan keputusan yang sangat sulit dan menyedihkan untuk mengurangi jumlah kolega di Starbucks yang ada di Timur Tengah dan Afrika Utara,’’ demikian pernyataan Alshaya tersebut mengenai pemangkasan karyawan Starbucks. 

Perusahaan tak menyebut secara terperinci berapa jumlah karyawan yang terkena pemutusan hubungan kerja (PHK). Namun, laman berita Reuters yang pertama kali melaporkan menyebut sekitar 2.000 orang yang terkena pemangkasan. Alshaya tak membantah laporan ini. 

‘’Kami akan memberikan dukungan yang dibutuhkan kepada mereka dan keluarganya. Kami ingin menyampaikan terima kasih terdalam atas kerja keras dan dedikasi mereka kepada Alshaya Group dan jenama Starbucks,’’ demikian pernyataan mereka. 

Alshaya yang berbasis di Kuwait mempunyai hak mengoperasikan Starbucks di Timur Tengah lebih dari 25 tahun. Mereka mengoperasikan sekitar 1.300 kedai di berbagai lokasi di kawasan tersebut, mempekerjakan sekitar 11 ribu orang. 

‘’Benak kami bersama dengan para mitra yang mengenakan apron hijau yang akan pergi dan kami menyampaikan terima kasih atas kontribusi mereka,’’ ujar juru bicara Starbucks. Ia menambahkan, pihaknya tetap berkomitmen untuk bekerja sama dengan Alshaya.

Konsumen di Timur Tengah memboikot perusahaan-perusahaan di Timur Tengah yang mereka yakini perusahaan itu mendukung atau mempunyai kaitan dengan Israel yang menyerang Gaza dan menyebabkan 30 ribu warga sipil meninggal dunia. 

Laporan penjualan Starbucks akhir-akhir tak sesuai ekspektasi, khususnya penjualan yang anjlok di Timur Tengah. Starbucks tak sendirian. McDonald’s bulan lalu menyatakan bisnisnya terimbas karena perang Israel di Gaza. 

Yum! Brands yang menguasai KFC dan Pizza Hut mengungkapkan penjualan mereka terdampak perang di Timur Tengah dengan tingkat dampak yang berbeda-beda. 

 

 

 

sumber : AP/Reuters
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement