Kamis 29 Feb 2024 14:04 WIB

Pabrik Amonium Nitrat di Kaltim Dorong Kemandirian Produksi Pupuk

Indonesia ditarget bisa memproduksi 100 persen bahan baku untuk pembuatan pupuk.

Rep: Dessy Suciati Saputri/ Red: Lida Puspaningtyas
Presiden Joko Widodo didampingi Menteri BUMN Erick Thohir dan jajaran meresmikan pabrik Kaltim Amonium Nitrat (KAN) di Bontang, Kalimantan Timur pada Kamis (29/2/2024).
Foto: Republika/Fauziah Mursid
Presiden Joko Widodo didampingi Menteri BUMN Erick Thohir dan jajaran meresmikan pabrik Kaltim Amonium Nitrat (KAN) di Bontang, Kalimantan Timur pada Kamis (29/2/2024).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengatakan, pembangunan pabrik amonium nitrat PT Kaltim Amonium Nitrat di Bontang, Kalimantan Timur, bisa mendorong kemandirian produksi pupuk di Tanah Air. Dengan demikian, produksi pupuk di Indonesia tidak akan terpengaruh oleh kondisi yang terjadi di negara lain.

"Ini akan mendorong kemandirian produksi pupuk kita, jadi tidak banyak bahan baku yang impor dari luar sehingga kalau negara yang di mana kita impor ada problem, di sini tidak menjadi masalah," kata Jokowi dalam keterangannya usai meresmikan pabrik amonium nitrat PT Kaltim Amonium Nitrat di Bontang, Kalimantan Timur, Kamis (29/2/2024).

Baca Juga

Ia mencontohkan konflik perang yang terjadi antara Ukraina dan Rusia berdampak ke banyak negara, khususnya produsen pupuk. Karena itu, Jokowi mengapresiasi pembangunan pabrik amonium nitrat ini.

"Dan kita harapkan akan menjadikan kita mandiri di dalam produksi pupuk di Tanah Air," ujarnya.

 

Jokowi mengatakan, peningkatan produksi pupuk di dalam negeri juga akan mendorong produktivitas para petani. Jika produksi pupuk semakin meningkat, maka ketersediaan pupuk untuk para petani pun tidak terganggu.

Sehingga musim tanam tidak akan mundur dan produktivitas pertanian tidak akan menurun karena masalah ketersediaan pupuk.

"Kalau pupuk kita semakin meningkat produktivitasnya tentu saja yang kita salurkan kepada petani kita akan semakin pasti berapa ton yang akan dikirim ke petani, kemudian kepastian mengenai timing kapan petani menggunakan pupuk juga itu bisa diatur oleh kementerian, sehingga betul-betul musim tanam tidak mundur karena pupuk, produktivitas tidak turun gara-gara pupuk," jelasnya.

Selama ini, Indonesia masih mengimpor 21 persen amonium nitrat untuk bahan baku pembuatan pupuk. Dengan berdirinya pabrik amonium nitrat PT Kaltim Amonium Nitrat ini diperkirakan bisa mengurangi 8 persen impor. Jokowi pun berharap ke depannya Indonesia bisa memproduksi 100 persen bahan baku untuk pembuatan pupuk.

"Kalau bisa memang masih sisa dari 21 persen dikurangi 8 persen karena sekarang sudah diproduksi oleh PT Kaltim Amonium Nitrat, sisanya masih 13 persen bisa selesaikan sekalian, sehingga 100 persen bahan baku untuk NPK itu ada dalam negeri," ujarnya.

Terkait tambahan pupuk subsidi, Jokowi menyampaikan bahwa sudah diputuskan di dalam Sidang Kabinet Paripurna pada Senin (26/2/2024) lalu. Pemerintah memutuskan untuk menambah kuota pupuk subsidi dari 4,7 juta ton menjadi 9,55 juta ton.

"Ini kan kita tahun kemarin itu hanya 4,7 juta ton ini akan kita kejar menjadi 9,5 juta ton sehingga kepastian pupuk untuk petani itu betul-betul ada dan disubsidi. Kemarin sudah kita bicarakan di rapat paripurna dan kita sepakat bahwa itu akan dilakukan tahun ini," jelas Jokowi.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement