Senin 05 Feb 2024 21:13 WIB

Ekonom Optimistis Ekonomi RI 2024 Tumbuh 5,07 Persen

Ekonomi Indonesia catat pertumbuhan 5,05 persen yoy sepanjang 2023.

Gerbong kereta Panoramic Kereta Api (KA) Papandayan menuju Stasiun Garut, Kabupaten Garut, Jawa Barat, jelang peluncuran KA Papandayan dan KA Pangandaran, Rabu (24/1/2024). Selain untuk meningkatkan pelayanan kepada pelanggan, beroprasinya dua kereta ini diharapkan akan memperkuat konektivitas antar wilayah di Jawa Barat serta membuka banyak peluang untuk pertumbuhan ekonomi dan pariwisata.
Foto: Edi Yusuf/Republika
Gerbong kereta Panoramic Kereta Api (KA) Papandayan menuju Stasiun Garut, Kabupaten Garut, Jawa Barat, jelang peluncuran KA Papandayan dan KA Pangandaran, Rabu (24/1/2024). Selain untuk meningkatkan pelayanan kepada pelanggan, beroprasinya dua kereta ini diharapkan akan memperkuat konektivitas antar wilayah di Jawa Barat serta membuka banyak peluang untuk pertumbuhan ekonomi dan pariwisata.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ekonom Bank Permata Josua Pardede optimistis perekonomian Indonesia pada 2024 dapat tumbuh 5,07 persen (year-on-year/yoy).

"Kami memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2024 akan tetap kuat, tumbuh sebesar 5,07 persen," kata Josua saat dihubungi ANTARA di Jakarta, Senin (5/2/2024).

Baca Juga

Optimismenya itu menimbang kinerja perekonomian pada 2023 yang mampu tumbuh sesuai prediksi di atas 5 persen.

Menurut dia, perekonomian Indonesia pada 2023 menghadapi tantangan normalisasi dari realisasi pertumbuhan ekonomi 2022 yang telah mencatatkan basis yang tinggi (high base) serta perlambatan ekonomi global.

Kendati begitu, ekonomi Indonesia mampu mencatatkan pertumbuhan 5,05 persen yoy sepanjang 2023. Dengan ekspektasi pemulihan ekonomi terus berlanjut, Josua memperkirakan ekonomi Indonesia pada 2024 akan ditopang oleh permintaan domestik.

Namun, pada paruh pertama tahun, perekonomian Indonesia menghadapi potensi tantangan dari faktor internal maupun eksternal. Di dalam negeri, potensi peningkatan inflasi pangan akibat El Nino berpeluang memengaruhi konsumsi rumah tangga.

Selain itu, ketidakpastian akibat Pemilu 2024 membuat investor memilih wait and see, sehingga berpotensi memengaruhi pembentukan modal tetap bruto (PMTB). Sementara dari sisi eksternal, risiko perlambatan kinerja ekspor akibat perlambatan ekonomi dinilai juga perlu menjadi perhatian.

"Meski begitu, peluang pertumbuhan tetap ada, termasuk peningkatan belanja pemerintah terkait dengan Pemilu 2024 dan percepatan proyek strategis nasional (PSN)," ujar Josua.

Memasuki paruh kedua tahun, selesainya pemilu dan potensi penurunan suku bunga global diprediksi akan mengurangi tekanan ekonomi secara bertahap. Dengan begitu, investasi langsung dan arus modal masuk diantisipasi akan meningkat.

"Pertumbuhan ekonomi sepanjang tahun 2024 juga akan didukung oleh kebijakan fiskal dan moneter yang cenderung pro pertumbuhan," tutur dia.

Sebelumnya, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyatakan postur Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2024 didesain sebagai shock absorber, akselerator transformasi ekonomi, sekaligus instrumen untuk mewujudkan kesejahteraan rakyat.

Sementara, Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menyatakan BI terus memperkuat bauran kebijakan moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran baik yang pro-stability maupun pro-growth untuk menjaga stabilitas dan mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

sumber : ANTARA
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement