Senin 29 Jan 2024 20:31 WIB

Suku Bunga The Fed Diprediksi Masih Terhambat Besarnya Defisit AS

Defisit di AS masih besar jadi akan ada kebutuhan bond issuance yang cukup besar.

Co-Chair of the Pandemic Fund Chatib Basri (kiri) berswafoto dengan Menkeu AS Janet Yellen, (kanan) di Nusa Dua, Bali, Indonesia, Minggu, 13 November 2022.
Foto: AP Photo/Dita Alangkara
Co-Chair of the Pandemic Fund Chatib Basri (kiri) berswafoto dengan Menkeu AS Janet Yellen, (kanan) di Nusa Dua, Bali, Indonesia, Minggu, 13 November 2022.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Penurunan suku bunga Federal Reserve atau The Fed diprediksi masih terhambat oleh besarnya defisit Amerika Serikat (AS).

Hal itu diungkapkan oleh ekonom senior Chatib Basri. Dia berpendapat meski ada peluang The Fed menurunkan suku bunga dua sampai tiga kali lipat pada separuh kedua 2024, tapi defisit AS masih menjadi tantangan.

Baca Juga

"Tantangannya adalah defisit di AS masih besar. Jadi, akan ada kebutuhan bond issuance yang cukup besar," kata Chatib Basri saat ditemui pada kegiatan IIF’s Anniversary Dialogue bertema The Dynamics of Sustainable Infrastructure Financing and Its Roles in Achieving Food Security di Jakarta, Senin (29/1/2024).

Di samping itu, dia menilai peluang resesi AS mengecil pada tahun ini. Hal itu disebabkan dia melihat adanya potensi pertumbuhan ekonomi yang lebih baik di AS. Sementara, bila kemungkinan resesi AS mengecil, maka skema yang mungkin terjadi ialah makin sedikitnya orang-orang yang memegang obligasi.

 

"Permintaan bond akan naik, suplai naik, maka harga akan jatuh dan imbal hasil (yield) akan naik. Ini yang membuat The Fed harus hati-hati dalam menurunkan tingkat suku bunga," ujar dia.

Sementara itu, Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo memperkirakan suku bunga kebijakan Amerika Serikat (AS) atau Fed Funds Rate (FFR) turun sebanyak tiga kali hingga mencapai 75 basis poin pada 2024, dimulai pada paruh kedua 2024.

Perkiraan tersebut didasarkan atas penilaian terhadap kondisi ekonomi AS, pasar tenaga kerja dan inflasi Indeks Harga Belanja Personal (PCE) inti AS, serta pernyataan-pernyataan resmi dari Federal Open Market Committee (FOMC).

Perry menuturkan pasar mengantisipasi kemungkinan FFR turun lebih cepat di penghujung kuartal II 2024. Sebagian memperkirakan tingkat penurunan FFR yang lebih tinggi, yakni bisa empat kali dengan total penurunan 100 basis poin pada 2024, bahkan lebih besar. Karena masih ada ketidakpastian waktu dan besaran penurunan suku bunga FFR, maka terdapat volatilitas sentimen pasar sehingga rupiah naik turun.

Ia mengatakan tren pergerakan nilai tukar rupiah ke depan akan menguat mengikuti semakin meredanya kondisi gejolak global, semakin besarnya aliran modal masuk di portfolio dan konsistensi kebijakan Bank Indonesia, yakni kebijakan moneter yang pro-stability, serta kebijakan makroprudensial dan sistem pembayaran yang tetap pro-growth.

 

sumber : ANTARA
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement