Ahad 28 Jan 2024 12:28 WIB

Awal 2024 Diproyeksikan Kondusif untuk Aset Berisiko, Pilih Saham atau Surat Utang?

Untuk ekuitas, investor bisa fokus ke sektor teknologi dan kebutuhan sekunder.

Penjaga toko membersihkan produk dagangannya di Plaza Indonesia, Jakarta, Selasa (24/3/2020) (ilustrasi).
Foto: ANTARA/Muhammad Adimaja
Penjaga toko membersihkan produk dagangannya di Plaza Indonesia, Jakarta, Selasa (24/3/2020) (ilustrasi).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- DBS Group Research memproyeksikan bahwa lingkungan kuartal pertama 2024 akan lebih kondusif untuk aset-aset berisiko sehingga investor dapat memperkuat portofolionya.

"Ini disertai dengan prediksi bahwa tingkat suku bunga acuan Amerika Serikat akan mencapai puncaknya seiring dengan melambatnya laju inflasi dan penundaan pengetatan moneter oleh Bank Sentral Amerika Serikat" kata DBS Chief Investment Officer (CIO) Hou Wey Fook.

Baca Juga

Hou menyarankan, untuk ekuitas, investor bisa fokus ke pertumbuhan berkualitas di sektor teknologi dan kebutuhan sekunder. Sedangkan untuk kredit dan obligasi, posisi terbaik (sweet spot) berada di kredit berperingkat A/BBB dengan jangka waktu 3-5 tahun. Walaupun demikian, investor harus tetap berhati-hati dengan risiko kredit yang dapat terakumulasi bahkan setelah kenaikan suku bunga.

Ia juga memaparkan pertumbuhan industri barang mewah (luxury) yang mencatatkan Tingkat Pertumbuhan Tahunan Majemuk (CAGR) sebesar enam persen dalam periode 1996 hingga 2019. "Pertumbuhan ini didorong dengan adanya globalisasi dan kekuatan belanja Gen Z," kata dia.

Hou memandang industri barang mewah memiliki daya tarik yang kuat dan potensi investasi yang cukup besar.

Bank Sentral Amerika Serikat (AS) atau The Fed sebelumnya memulai pengetatan kebijakan, dengan total kenaikan sebesar 525 basis poin (bps) dalam 16 bulan, menjadikannya siklus kenaikan suku bunga tercepat dan paling agresif dalam sejarah. "Hal ini telah menciptakan kondisi menantang untuk ekuitas dan obligasi selama setahun terakhir," ujar Hou.

Di tengah dinamika pasar, lanjutnya, Strategi Barbel dengan fokus pada obligasi yang menghasilkan pendapatan di satu sisi dan ekuitas yang tumbuh secara sekuler di sisi lain dapat menjadi solusi.

 

 

sumber : ANTARA
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement