Rabu 06 Dec 2023 07:09 WIB

Indonesia Kehilangan Sejuta Petani, Pengamat: Harus Kerja Ekstra Keras

Memburuknya pertanian bisa dilihat dari peningkatan impor.

Rep: Intan Pratiwi/ Red: Lida Puspaningtyas
Petani memanen tanaman padi secara tradisional di persawahan kawasan Minggir, Sleman, Yogyakarta, Selasa (5/12/2023). Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah petani Indonesia sejak 2013 terus mengalami penurunan. Dari 31 juta petani pada 2013 hingga saat ini 29,3 juta petani, bahkan kondisinya didominasi oleh petani usia tua.
Foto: Republika/Wihdan Hidayat
Petani memanen tanaman padi secara tradisional di persawahan kawasan Minggir, Sleman, Yogyakarta, Selasa (5/12/2023). Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah petani Indonesia sejak 2013 terus mengalami penurunan. Dari 31 juta petani pada 2013 hingga saat ini 29,3 juta petani, bahkan kondisinya didominasi oleh petani usia tua.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pengamat Pertanian Khudori menilai hasil Sensus Pertanian 2023 tahap 1 yang dirilis Senin (4/12/2023) harus direspons serius oleh pemerintah. Ia menilai, perlu ada banyak tata kelola pertanian yang dibenahi.

"Meskipun sudah diduga sejak awal bahwa tantangan yang dihadapi sektor pertanian akan semakin berat seperti tecermin dari hasil sensus, namun data-data yang dirilis membuat para pemangku kepentingan pertanian untuk bekerja lebih dan ekstra keras lagi untuk menangani pertanian," kata Khudori kepada Republika, Selasa (5/12/2023).

Baca Juga

Khudori mengatakan sektor pertanian dari tahun ke tahun terus mengalami penurunan kinerja. Angka surplus sektor pertanian selama ini ditopang oleh perkebunan, sedangkan tanaman pangan yang menjadi basis kebutuhan pokok masyarakat malah terus menurun.

"Komoditas perkebunan yang lain atau subsektor yang lain terus mengalami keterpurukan. Salah satunya tercermin dari impor pangan, baik nilai maupun volume, yang terus naik," kata Khudori.

Kata dia, saat ini masyarakat sangat bergantung pada sektor pertanian, terutama masyarakat desa. Warga di perdesaan sebagian besar masih menggantungkan hidupnya dari sektor pertanian.

Akan tetapi, gantungan hidup warga ini ditandai kondisi yang semakin gurem dan produktivitas yang rendah yang ujung-ujungnya tidak memberikan jaminan keuntungan dan kesejahteraan bagi para pelakunya.

"Jumlah petani gurem yang makin besar ini menandai bahwa barisan orang miskin dari sektor pertanian kian bertambah. Dengan mengusahakan lahan kurang dari 0,5 ha, penghasilan dari sektor pertanian dipastikan tidak akan mampu mencukupi kebutuhan hidup keluarga," kata Khudori.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement