Jumat 01 Dec 2023 13:39 WIB

Ini Penyebab Tekanan Inflasi Beras Menurun pada November 2023

Inflasi beras mulai berkurang karena harga gabah menunjukkan penurunan.

Rep: Rahayu Subekti / Red: Friska Yolandha
Petani merontokkan padi di lahan persawahan di Soreang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Senin (6/11/2023). Tekanan inflasi pada beras menurun karena turunnya harga gabah.
Foto: ABDAN SYAKURA/REPUBLIKA
Petani merontokkan padi di lahan persawahan di Soreang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Senin (6/11/2023). Tekanan inflasi pada beras menurun karena turunnya harga gabah.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat beras masih mengalami inflasi pada November 2023, tapi tekanannya melemah. Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS Moh Edy Mahmud tekanan inflasi beras pada November 2023 terus melemah sebesar 0,43 persen.

Dia menuturkan, terdapat dua faktor penyebab melemahnya tekanan inflasi beras pada periode tersebut. "Pertama, memang beberapa berbagai wilayah penghasil gabah itu sudah mulai panen," kata Edy dalam konferensi pers, Jumat (1/12/2023).

Baca Juga

Dia menuturkan, harga gabah saat ini mulai menunjukan penurunan namun di tingkat produsen atau penggilingan beras. Hanya saja, Edy menyebut penurunan harga gabah tersebut masih tipis dan belum signifikan berdampak kepada harga beras.

Dalam beberapa waktu ke depan, Edy memproyeksikan harga tersebut baru bisa tertransmisi hingga ke tingkat penggilingan, grosir, dan eceran. "Memang tadi data kami baru sampai ke tingkat produsen dan penggilingan. Tapi, mungkin kalau sudah ada penurunan ini akan sampai ke transmisi sampai ke pedagang pengecer," ujar Edy.

 

Pada dasarnya, Edy memastikam, beras di tingkat produsen dan petani sudah terjadi penurunan harga namun belum tertransmisi sampai ke pedagang pengecer. Jika pada Desember 2023 masih terjadi inflasi beras, Edy menyebut levelnya akan semakin kecil karena sudah ada panen.

Selanjutnya, faktor kedua, yakni realisiasi penugasan impor beras untuk penyaluran cadangan beras pemerintah dan bantuan pangan. Selain itu, juga untuk stabilisasi harga beras melalui penyaluran beras SPHP dan beras komersil. Secara tidak langsung, kata dia, dampak dari penambahan stok dari beras impor tersebut bisa menahan laju inflasi beras dan menciptakan efek psikologis tentang stabilisasi harga beras.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi pada pada November 2023 secara bulanan mencapai 0,38 persen. Lalu, secara tahunan terjadi inflasi sebesar 2,86 persen dan secara year to date sebesar 2,19 persen.

Komoditas yang dominan memberikan andil atau sumbangan inflasi secara tahunan pada November 2023 antara lain beras, daging ayam ras, bawang putih, cabai merah, cabai rawit, gula pasir, jeruk, rokok keretek, rokok kretek filter, dan rokok putih. Begitu juga dengan tarif air minum PAM, sewa rumah, kontrak rumah, upah asisten rumah tangga, mobil, tarif angkutan udara, uang sekolah SMA, uang kuliah akademi atau PT, nasi dengan lauk, dan emas perhiasan.

Sementara komoditas yang dominan memberikan andil atau sumbangan inflasi secara bulanan pada November 2023, antara lain, beras, cabai merah, cabai rawit, cabai hijau, dan bawang merah. Begitu juga dengan gula pasir, telur ayam ras, buncis, tarif air minum PAM, tarif angkutan udara, dan emas perhiasan. 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement