Ahad 26 Nov 2023 07:43 WIB

Hyundai: Insentif Kendaraan Listrik Sudah di Jalur yang Benar

Hyundai menyebut akan meningkatkan kapasitas produksi mobil listrik hingga 250 persen

Pengunjung melihat mobil yang dipajang pada pameran otomotif Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) Bandung 2023 di Sudirman Grand Ballroom, Bandung, Jawa Barat, Rabu (22/11/2023). GIIAS Bandung 2023 yang berlangsung 22-26 November 2023 tersebut diikuti oleh 18 merek kendaraan bermotor dari berbagai industri.
Foto: REPUBLIKA/ABDAN SYAKURA
Pengunjung melihat mobil yang dipajang pada pameran otomotif Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) Bandung 2023 di Sudirman Grand Ballroom, Bandung, Jawa Barat, Rabu (22/11/2023). GIIAS Bandung 2023 yang berlangsung 22-26 November 2023 tersebut diikuti oleh 18 merek kendaraan bermotor dari berbagai industri.

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG -- Hyundai Motors Indonesia menilai bahwa insentif yang dikeluarkan pemerintah terkait dengan kendaraan listrik yakni bea balik nama nol persen, sudah berada pada jalur yang benar bagi pertumbuhan elektrifikasi di Indonesia.

Kata Head of Public Relations Hyundai Motors Indonesia Uria Simanjuntak, untuk adopsi terhadap elektrifikasi tidak hanya membutuhkan peran dari pabrikan kendaraan, namun kolaborasi dengan berbagai pihak mulai dari penyedia Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU), dan juga dukungan pemerintah dari segi kebijakan.

Baca Juga

"Saya rasa semua sudah on the right track kami dari pabrikan dan mungkin produsen lain juga merasa sangat terbantu. Kebijakan yang tentu sudah sesuai dengan hasil riset mendalam, kami akan mendukung ekosistem secara keseluruhan mulai dari produk, layanan, infrastruktur dan juga produksi kami siap membantu," ucap Uria dalam momen pameran GIIAS 2023 di Bandung, Jumat (24/11/2023).

Dengan kebijakan tersebut, Uria mengatakan bahwa salah satu produknya yakni Ioniq 5 yang masuk skema insentif pemerintah, mengalami pertumbuhan positif.

 

"Sebelum insentif berlangsung pada April 2023, sebenarnya sambutan kendaraan listrik sangat positif, dan ketika kebijakan berlangsung ada peningkatan sedikitnya dua kali lipat sejak awal tahun dan terus tumbuh positif untuk Ioniq 5," ucapnya.

Senada dengan itu, Head of Marketing Department Hyundai Motors Indonesia Astrid Ariani Wijana mengatakan memang dengan fasilitas insentif yang sejauh ini baru diberikan untuk dua pabrikan dengan ketentuan produk diproduksi di Indonesia serta memiliki Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) yang cukup, mengalami peningkatan dalam permintaan kendaraan listrik.

"Memang pastinya tuh ada peningkatan. Biasanya kalau dulu mungkin kita cuma bisa delivery 200-300 unit, tapi sekarang kami itu bisa delivery itu kurang lebih average tiap bulan di angka lebih dari 700 unit ke seluruh Indonesia," ucapnya.

Peningkatan tersebut, kata Astrid memang merupakan kabar gembira, namun di sisi lain merupakan tantangan. Karenanya ketika regulasi digulirkan, komitmen pertama dari Hyundai adalah meningkatkan kapasitas produksi untuk mengakomodir peningkatan permintaan yang harus dipenuhi.

"Percuma ada regulasi, demandnya ada tapi kapasitasnya enggak ada. Meningkatkan penjualan istilahnya hanya ada di awang-awang ketika mobilnya tidak ada, jadi tugas pertama Hyundai pastikan kapasitas produksinya ada untuk mendukung regulasi ini," katanya.

Karena hal tersebut, Astrid mengatakan Hyundai Motor Manufacturing Indonesia (HMMI) berkomitmen untuk menambah kapasitas produksi kendaraan listrik bersubsidi hingga 1.000 unit per bulan agar bisa memenuhi distribusi ke seluruh Indonesia.

"Ini tidak hanya untuk memastikan bahwa ketersediaan itu akan tetap stabil, dan otomatis program pemerintahnya sukses ya," tuturnya.

Sementara itu, secara keseluruhan, untuk mendorong pembentukan ekosistem kendaraan listrik sekaligus menjadikan Indonesia kembali menjadi pemimpin elektrifikasi di Asia Tenggara, Hyundai menyebut akan meningkatkan kapasitas produksi mobil listrik hingga 250 persen pada 2024.

Saat ini kapasitas atau kemampuan produksi mobil listrik di HMMI Cikarang, Jawa Barat, mencapai 20.000 per tahun dan akan ditingkatkan menjadi 70.000 unit mobil listrik di 2024.

Untuk penjualan berbagai produk Hyundai, Astrid menjelaskan saat ini Jawa Barat menjadi provinsi ke dua dengan penjualan tertinggi di nasional yakni 19,6 persen.

"Dari 19,6 persen ini, Kota Bandung itu mendapat 37 persen , kedua kota Bogor sekitar 29,8 persen kemudian di ikuti Depok hampir 20 persen," ujarnya.

Yang menjadi tulang punggung penjualan di Jawa Barat, tambah Astrid, adalah Stargizer, Creta, dan Ioniq yang merupakan mobil listrik.

"Sepanjang 2023 dari Januari hingga Oktober, dijual 689 unit Stargizer, kemudian Creta 328 unit, dan Ioniq itu 214 unit. Dengan regulasi itu kita juga sebisa mungkin memastikan produksi mobil listrik stabil dan mudah-mudahan Bandung bisa melejit melewati Jakarta," tuturnya.

Dalam GIIAS Bandung 2023 kali ini yang dijadwalkan berlangsung sampai 26 November 2023 di Sudirman Grand Ballroom, Hyundai membawa Stargazer X, Ioniq 6, Ioniq 5 Bluelink, New Palisade, dan Creta.

sumber : ANTARA
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement