Rabu 07 Jan 2026 16:02 WIB

IHSG Menguat, CSIS Ingatkan Ancaman Bubble Saham

Reli indeks dianggap menyerupai pembentukan gelembung ketimbang cerminan ekonomi riil

Tamu undangan berada di dekat layar elektronik pergerakan saham saat acara penutupan perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI) Tahun 2025 di Main Hall BEI, Jakarta, Selasa (30/12/2025). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada akhir Tahun 2025 ditutup menghijau/menguat 2,68 poin atau 0,03 persen ke posisi 8.646,94. Perdagangan saham akan kembali dibuka pada Jumat, 2 Januari 2026.
Foto: Republika/Prayogi
Tamu undangan berada di dekat layar elektronik pergerakan saham saat acara penutupan perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI) Tahun 2025 di Main Hall BEI, Jakarta, Selasa (30/12/2025). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada akhir Tahun 2025 ditutup menghijau/menguat 2,68 poin atau 0,03 persen ke posisi 8.646,94. Perdagangan saham akan kembali dibuka pada Jumat, 2 Januari 2026.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Peneliti senior Departemen Ekonomi Center for Strategic and International Studies (CSIS) Deni Friawan mewanti-wanti adanya risiko gelembung harga (bubble) di balik penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang perlu diwaspadai. Hal ini ia sampaikan merespons optimisme Menteri Keuangan RI Purbaya Yudhi Sadewa yang memprediksi IHSG bisa menembus level 10.000 pada 2026.

Dalam Media Briefing Outlook 2026 CSIS di Jakarta, Rabu, Deni menjelaskan penguatan IHSG saat ini bukan didorong oleh saham-saham dengan fundamental kuat, seperti perbankan besar atau emiten konsumsi utama.

Baca Juga

Sebaliknya, kenaikan indeks justru banyak ditopang oleh saham perusahaan-perusahaan baru dengan valuasi sangat tinggi.

“(Saham) yang menguat kebanyakan bukan perusahaan-perusahaan yang fundamentalnya bagus. Maksud saya, misalnya bukan Bank BCA, BRI, Bank Mandiri, atau Indofood atau ICBP, dan segala macam, yang kebanyakan ini kan adalah perusahaan-perusahaan baru yang bahkan Price to Earnings Ratio (PER)-nya saja sampai 500 kali,” ujarnya.

Kondisi itu menunjukkan adanya kenaikan harga saham yang tidak sejalan dengan kinerja dan fundamental emiten. Akibatnya, reli IHSG lebih menyerupai pembentukan bubble dibandingkan refleksi kekuatan ekonomi nasional.

Ia mengingatkan risiko utama dari kondisi tersebut adalah terjadinya siklus boom and bust. Ketika ekspektasi pasar tidak lagi sejalan dengan realisasi kinerja perusahaan, koreksi tajam berpotensi terjadi dan memicu gejolak di pasar keuangan.

Narasi tersebut dinilai berpotensi kontradiktif dengan kekhawatiran pemerintah sendiri terhadap praktik penggorengan saham yang seharusnya diawasi ketat oleh otoritas bursa.

“Ini menurut saya yang harus dikawal. Jangan sampai praktik-praktik seperti ini menciptakan hal yang semu,” tambahnya.

 

sumber : ANTARA
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement