Rabu 22 Nov 2023 12:44 WIB

Kemenkeu: Kurs Rupiah Masih Kuat di Tengah Ketidakpastian Global

Optimisme itu seiring masuknya dana asing ke RI awal hingga medio November 2023.

Rep: Novita Intan/ Red: Fuji Pratiwi
Kepala Badan Kebijakan Fiskal, Kemenkeu, Febrio Kacaribu
Foto: dokpri
Kepala Badan Kebijakan Fiskal, Kemenkeu, Febrio Kacaribu

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA-- Pemerintah menyebut nilai tukar rupiah masih tetap terjaga cukup baik. Mata uang garuda diperkirakan masih bisa mempertahankan penguatannya terhadap dolar AS hari ini, Rabu (22/11/2023). Pada perdagangan kemarin, rupiah ditutup menguat lima poin ke level Rp 15.440 per dolar AS.

Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan Febrio Nathan Kacaribu mengatakan, ketahanan nilai tukar rupiah tetap terjaga di tengah ketidakpastian global. "Kurs Indonesia tetap terjaga cukup kuat. Dalam kondisi apresiasi, padahal ada ketidakpastian global," ujar Febrio saat webinar BTPN Economic Outlook 2024 di Jakarta, Rabu (22/11/2023).

Baca Juga

Febrio menyebut seiring dengan dana asing yang kembali masuk ke Indonesia pada awal hingga pertengahan November 2023. Hal ini menunjukkan, investor percaya dengan kinerja maupun prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia dan tingkat inflasi yang terjaga. 

Maka itu ke depan pemerintah berupaya menjaga stabilitas ekonomi makro. Hal ini seiring otoritas fiskal juga akan berusaha memberi kondisi yang kondusif bagi sektor riil.

 

Pengamat Pasar Keuangan Ariston Tjendra mengatakan, pelaku pasar masih menanti kepastian mengenai perkembangan suku bunga acuan The Fed. Penguatan rupiah akan ditopang sentimen hasil rapat Bank Sentral AS terkait suku bunga.

"Notulen rapat Bank Sentral AS mengindikasikan The Fed belum akan menaikkan suku bunga acuannya ke depan karena inflasi AS menurun," kata Ariston.

Meskipun demikian, The Fed masih tetap membuka peluang kenaikan bila data-data terutama data inflasi mendukung. Pada Oktober lalu, bank sentral Amerika Serikat tetap mempertahankan suku bunganya berada level 5,25 persen-5,5 persen. 

Selain itu data penjualan rumah existing di Amerika Serikat pada Oktober menunjukkan penurunan sebesar 4,1 persen, lebih rendah dari penurunan bulan sebelumnya sebesar 2,2 persen. Penurunan ini akibat suku bunga tinggi di Amerika Serikat.

"Pelemahan sektor perumahan bisa membantu menurunkan inflasi AS ke depannya," ucapnya.

Ariston melihat rupiah hari ini berpotensi menguat ke arah 15.400-15.380, dengan level resisten kisaran 15.500. Pagi ini, rupiah sedikit tertekan ke level 15.571 seiring menguatnya kurs dolar AS sebesar 0,85 persen.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement