Selasa 07 Nov 2023 13:15 WIB

Direktur BNI: Higher for Longer Baru akan Selesai di Kuartal II 2024

Hal tersebut disebabkan oleh masih tingginya tensi geopolitik di tingkat global.

Nasabah melakukan pembukaan rekening digital menggunakan BNI DigiCS saat operasional terbatas di Kantor Cabang BNI, Bandung, Jawa Barat, Rabu (4/5/2022) (ilustrasi).
Foto: ANTARA/M Agung Rajasa
Nasabah melakukan pembukaan rekening digital menggunakan BNI DigiCS saat operasional terbatas di Kantor Cabang BNI, Bandung, Jawa Barat, Rabu (4/5/2022) (ilustrasi).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Direktur Institutional Banking PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) Muhammad Iqbal menyampaikan tren suku bunga tinggi alias higher for longer akan berlangsung lebih lama dan baru akan selesai pada kuartal II 2024 mendatang.

Hal tersebut disebabkan oleh masih tingginya tensi geopolitik di tingkat global, salah satunya konflik yang sedang terjadi di Timur Tengah, katanya dalam CEO Networking 2023 bertajuk Achieving Sustainable Growth through Cohesive Collaboration di Jakarta, Selasa (7/10/2022).

Baca Juga

"Dengan perkembangan tensi geopolitik yang tinggi, sepertinya trennya akan berlangsung lebih panjang dan kami melihat bahwa kebijakan suku bunga tinggi ini masih akan terus tinggi dan baru akan turun di kuartal II 2024," ujar Iqbal.

Dengan kemungkinan situasi itu, Ia mengingatkan perlunya likuiditas yang mencukupi sebagai prioritas utama bagi perbankan di Tanah Air. "Dan konsekuensinya mungkin akan terjadi peningkatan cost of fund yang sangat signifikan," ujar Iqbal.

Selain menjaga kecukupan likuiditas, lanjutnya, industri perbankan juga perlu menjaga portofolio kredit permodalan untuk memastikan keberlanjutan bisnis dalam jangka panjang.

"Kami di BNI juga menjaga portofolio kredit permodalan guna memastikan keberlanjutan bisnis dalam jangka panjang," ujar Iqbal.

Dalam kesempatan ini, Ia mengatakan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang sustain di level 5 persen dapat menjadi fondasi yang kuat untuk menciptakan iklim investasi yang baik ke depan.

Ditambah, dengan target pemerintah terhadap pendapatan nasional bruto (PNB) Indonesia akan mencapai 14.000 dolar Amerika Serikat (AS) pada 2045 mendatang, dapat merubah ekonomi dalam negeri yang berbasis konsumsi menjadi investasi.

Suku bunga acuan bank sentral AS The Fed saat ini masih berada di level yang tinggi yaitu 5,25 persen-5,50 persen, yang mana sejak Maret 2022 hingga Juli 2023, The Fed telah mengerek suku bunga secara agresif sebesar 525 basis poin (bps).

Dari dalam negeri, suku bunga Bank Indonesia (BI) 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) juga berada di level yang tinggi yaitu 6,00 persen, setelah pada pertemuan terakhir dinaikkan sebesar 25 bps.

 

 

 

 

sumber : ANTARA
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement