Ahad 05 Nov 2023 15:57 WIB

Pedagang di Bantul Keluhkan Beras SPHP, Rasanya Kurang Enak

Meski begitu, pedagang tetap mencari beras SPHP karena beras petani sulit didapat.

Rep: Idealisa Masyrafina/ Red: Fuji Pratiwi
Pedagang beras melayani pembeli di kiosnya di pasar (ilustrasi).
Foto: ABDAN SYAKURA/REPUBLIKA
Pedagang beras melayani pembeli di kiosnya di pasar (ilustrasi).

REPUBLIKA.CO.ID, BANTUL -- Pedagang eceran beras di Pasar Niten, Kabupaten Bantul, DIY, mengeluhkan semakin sulitnya mendapatkan pasokan beras untuk dijual. Akibatnya, harga beras terus melambung selama enam bulan terakhir ini.

Untuk mengatasi hal ini, Pemkab Bantul telah melakukan penyaluran beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) bekerja sama dengan Perum Bulog Kanwil Yogyakarta. Sebelumnya SPHP untuk beras sebanyak 70 ton telah disalurkan pada 6 pasar di  Kabupaten Bantul yakni di Pasar Niten, Pasar Bantul, Pasar Imogiri, Pasar Pijenan, Pasar Barongan, dan Pasar Jejeran Pleret.

Baca Juga

Pemilik Kios nomor 13 Pasar Niten, Mainem menuturkan, biasanya ia menjual beras dengan harga Rp 13 ribu per kg kg, dan Rp 14 ribu per eceran. Untuk beras yang berasal dari panen petani langsung, harga jualnya lebih murah yakni sebesar Rp 13 ribu per kg, dan Rp 12 ribu per 5 kg.

"Yang lebih murah beras dari Bulog, saya belinya sekitar Rp 10.200 per kg dan dijual lagi Rp 11 ribu per 5 kg, untuk eceran Rp 12 ribu per kg. Tapi banyak yang enggak suka rasanya, anyep," tutur Mainem kepada Republika, Ahad (5/11/2023).

 

Menurut Mainem, dari segi warna, beras Bulog terlihat bagus dan bersih. Akan tetapi berdasarkan penuturan pembeli, rasanya tidak terlalu disukai karena tidak manis seperti rasa beras yang seharusnya.

Untuk itu, pembeli beras Bulog biasanya adalah pedagang nasi goreng atau nasi kuning. "Karena kan nasinya dibumbui, kalau dimakan langsung rasanya kurang," ungkapnya.

Kendati begitu, Mainem sudah mendaftar lagi untuk mendapatkan pasokan beras Bulog. Ini karena sulitnya mendapatkan pasokan beras dari petani lokal, akibat kemarau yang berkepanjangan.

Berbeda dengan Mainem, pemilik toko Wahyuni di Pasar Niten, tidak berminat untuk mendaftar operasi pasar beras. Penyebabnya, beras Bulog dianggap kurang enak bagi pelanggannya.

"Murah tapi rasanya kurang enak. Saya sendiri seringnya ambil langsung ke petani lokal di Sewon ini," kata Agus, pemilik toko Wahyuni.

Harga beras yang dibeli langsung dari petani dijual lagi dengan harga berkisar antara Rp 13 ribu hingga Rp 14 ribu, tergantung kualitasnya. Selama musim kemarau diakuinya pasokan beras semakin menipis.

Itu sebabnya ia tidak lagi rutin mendapatkan beras dari petani langganannya. Padahal, beras yang didapat langsung dari petani rasanya lebih enak dan dengan harga yang terjangkau masyarakat.

"Biasanya saya muter-muter nyari beras di petani sekitar wilayah Sewon ini, tapi akhir-akhir ini susah sekali dapat beras. Karena lagi musim kemarau petani menyimpan gabahnya untuk dikonsumsi sendiri," tuturnya.

Tidak hanya masalah cuaca, berdasarkan penuturan para petani ke Agus, faktor biaya operasional yang tinggi, menjadi penyebab kenapa bercocok tanam padi semakin jarang dilakukan. Harga pupuk yang melambung, irigasi yang kering, serta mahalnya biaya pekerja membuat para pemilik lahan pertanian kesulitan untuk menanam padi.

"Jadi marginnya besar, dan sekarang stok beras malah semakin sulit," katanya.

Untuk itu ia berharap agar Pemerintah mau membantu para petani agar pasokan beras tetap aman, sehingga tidak terus menerus melambungkan harga di pasaran.

 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement