Selasa 31 Oct 2023 16:58 WIB

Rupiah Menguat Seiring Pelemahan Data Manufaktur Fed Dallas

Rupiah menguat ke level Rp 15.885 per dolar AS.

Sejumlah warga menukar uang di mobil kas keliling bank Indonesia di Halaman Parkir Pasar Koja, Jakarta Rabu (13/4/2022).
Foto: Prayogi/Republika.
Sejumlah warga menukar uang di mobil kas keliling bank Indonesia di Halaman Parkir Pasar Koja, Jakarta Rabu (13/4/2022).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Analis Pasar Mata Uang Lukman Leong mengatakan rupiah menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pasca data manufaktur Federal Reserve (Fed) Dallas melemah.

"Dallas Fed Manufacturing Index sebesar -19,6 dengan ekspektasi -15," ujar dia di Jakarta, Selasa (31/10/2023).

Baca Juga

Di samping itu, penguatan rupiah terbatas setelah data China yang baru dirilis menunjukkan aktivitas manufaktur lebih lemah dari harapan, yakni 49,2 dengan ekspektasi 50,2.

Pada penutupan perdagangan hari ini, mata uang rupiah menguat sebesar lima poin atau 0,03 persen menjadi Rp 15.885 per dolar AS dari penutupan sebelumnya sebesar Rp 15.890 per dolar AS.

 

Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada Selasa turut menguat ke posisi Rp 15.897 dari sebelumnya Rp 15.916 per dolar AS.

Berdasarkan kalender ekonomi, tidak ada tidak ada data krusial yang dirilis pada awal pekan. Fokus investor beralih ke hal-hal penting selama sisa minggu ini, termasuk keputusan suku bunga Bank of England dan Federal Reserve, yang diperkirakan tidak akan dinaikkan oleh bank sentral masing-masing.

Saat pembukaan perdagangan pagi tadi, Pengamat Pasar Uang Ariston Tjendra menduga rupiah akan melemah karena dipicu antisipasi pasar terhadap jelang keputusan Bank Sentral AS dalam pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) pada pekan ini.

Pengendalian inflasi dan penguatan kondisi ketenagakerjaan akan menjadi topik pembicaraan dalam pertemuan FOMC. Inflasi masih menjadi fokus karena melenceng jauh dari target dua persen, dan para pejabat AS bakal mempertanyakan apakah kebijakan saat ini masih cukup mendorong inflasi turun atau perlu kebijakan baru.

"Rupiah ditutup menguat kemarin (Senin, 30/10) terhadap dolar AS, tapi penguatan tidak jauh dari level Rp15.900 per dolar AS, sehingga ada kemungkinan potensi pelemahan rupiah masih belum hilang," ungkapnya.

Adapun sentimen lain yang diprediksi melemahkan rupiah berasal dari eskalasi konflik antara Israel melawan Hamas (kelompok perjuangan Palestina).

Seperti diketahui, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pada Sabtu (28/10) mengatakan bahwa pasukan rezim Zionis Israel telah melancarkan serangan darat ke Gaza, Palestina, sebagai bagian dari "perang tahap kedua" untuk menghancurkan kemampuan militer dan pemerintahan Hamas, serta membebaskan para tawanan.

 

sumber : ANTARA
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement