Jumat 27 Oct 2023 17:04 WIB

Kemendag Sebut Tahun Politik tak Pengaruhi Sektor Perdagangan

Perdagangan merupakan sektor riil, bersentuhan langsung dengan masyarakat.

Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kementerian Perdagangan Didi Sumedi di acara Trade Expo Indonesia di BSD City.
Foto: Istimewa
Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kementerian Perdagangan Didi Sumedi di acara Trade Expo Indonesia di BSD City.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional (Dirjen PEN) Didi Sumedi mengatakan bahwa tahun politik tidak akan mempengaruhi sektor perdagangan nasional.

"Saya kira enggak ada kaitannya tahun politik dengan ini (perdagangan)," ujar Didi ditemui di Kantor Kementerian Perdagangan, Jakarta, Jumat (27/10/2023).

Didi menjelaskan, perdagangan merupakan sektor riil atau sektor yang bersentuhan langsung dengan kegiatan ekonomi di masyarakat. Menurut Didi, hal ini sangat berbeda dengan saham, yang nilainya mengikuti kondisi politik.

Harga-harga komoditas dinilai tidak terlalu berpengaruh pada situasi politik yang sedang berlangsung hingga tahun depan. Perdagangan baik di dalam maupun luar negeri akan terus berjalan meski terjadi transisi kepemimpinan

"Kalau saham kan memang pasar dipengaruhi kondisi politik dan ekonomi, tapi kalau harga riil dari sektor perdagangan sih enggak ada pengaruhnya," kata Didi.

Transisi kepemimpinan akan menjadi titik penting bagi Indonesia untuk mengejar pembangunan ekonomi melalui perdagangan dan investasi.

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Widjaja Kamdani mengatakan, dunia usaha berharap para pemimpin baru nantinya dapat menghadirkan strategi pertumbuhan ekonomi Indonesia yang kuat, inklusif dan adaptif agar dapat meningkatkan kepercayaan Indonesia di mata internasional.

Selain itu, para calon pemimpin juga diharapkan bisa mendukung penciptaan lapangan pekerjaan dan kesejahteraan masyarakat, memimpin Indonesia secara strategis untuk keluar dari middle income trap untuk mempercepat target menjadi negara maju, serta melanjutkan kebijakan ekonomi yang lebih baik, terutama reformasi struktural untuk menjaga iklim usaha dan investasi yang kondusif.

"Transisi kepemimpinan akan menjadi titik penting bagi Indonesia untuk segara berlari kencang, menetapkan pondasi yang baik, agar kita bisa dengan cepat memanfaatkan bonus demografi 10 tahun ke depan sebagai modal pembangunan," kata Shinta.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
Advertisement
Advertisement