Senin 23 Oct 2023 15:17 WIB

BI Sebut Konflik di Timur Tengah Bakal Kerek Inflasi Dunia, Apa Dampaknya Buat Indonesia? 

Kenaikan harga energi dan pangan akan berdampak pada angka inflasi global.

Rep: Dedy Darmawan Nasution/ Red: Friska Yolandha
 Israeli soldiers prepare for the scenario of ground maneuvers at an undisclosed location near the border with Gaza, in Israel, 23 October 2023. More than 4,500 Palestinians and 1,400 Israelis have been killed, according to the Israel Defense Forces (IDF) and the Palestinian health authority, since Hamas militants launched an attack against Israel from the Gaza Strip on 07 October.
Foto: EPA-EFE/HANNIBAL HANSCHKE
Israeli soldiers prepare for the scenario of ground maneuvers at an undisclosed location near the border with Gaza, in Israel, 23 October 2023. More than 4,500 Palestinians and 1,400 Israelis have been killed, according to the Israel Defense Forces (IDF) and the Palestinian health authority, since Hamas militants launched an attack against Israel from the Gaza Strip on 07 October.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Bank Indonesia (BI) mengungkapkan konflik Timur Tengah antara Palestina dan Israel yang kembali memanas mulai memberikan dampak terhadap situasi global. Utamanya, terhadap kenaikan harga energi dan pangan yang kemudian berdampak pada angka inflasi global. 

Deputi Gubernur BI Juda Agung menyampaikan, kenaikan laju inflasi global akan mendorong negara-negara maju untuk menaikkan suku bunga bank sentral masing-masing demi mengendalikan inflasi. 

Baca Juga

“Jika kita melihat apa yang terjadi di dalam ekonomi global, tentu kita tidak bisa bernapas lega. Belum selesai krisis perang Rusia-Ukraina, kita kembali dikejutkan dengan krisis di Timur Tengah antara Israel dan Palestina,” kata Juda dalam Peluncuran Kajian Stabilitas Keuangan, Senin (23/10/2023). 

Bank Sentral AS, The Federal Reserve, diperkirakan akan mempertahankan suku bunga Federal Funds Rate (FFR) tetap tinggi. Juda mengatakan, The Fed juga telah menyampaikan untuk mendorong tetap tingginya suku bunga global. Terlebih, AS juga memerlukan pendanaan untuk berbagai macam keperluan, termasuk untuk perang. 

“Secara eksplisit, Yellen (menteri keuangan AS) sudah menyebutkan dia akan back up perang, baik yang terjadi di Rusia maupun di Timur Tengah. Jadi, ini perlu pembiayaan politik dan keamanan dan pada akhirnya mendorong kenaikan yield (imbal hasil) dari suku bunga di AS,” kata Juda. 

Imbas tren kenaikan suku bunga negara-negara maju, arus modal di negara berkembang seperti Indonesia bisa mengalami pelemahan. Sebab, perkembangan tersebut mendorong pembalikan arus modal dari negara Emerging Market Economies (EMEs) ke negara maju dan ke aset yang lebih likuid, yang mengakibatkan dolar AS menguat secara tajam terhadap berbagai mata uang dunia. 

Ketidakpastian ekonomi dan keuangan global semakin tinggi karena terjadi bersamaan dengan meningkatnya ketegangan geopolitik, dan karenanya memerlukan penguatan respons kebijakan untuk memitigasi dampak negatif rambatan global terhadap ketahanan ekonomi domestik di negara-negara EMEs, termasuk Indonesia.

Juda mengungkapkan, dalam sebulan terakhir telah terjadi volatilitas arus modal yang kian tinggi di pasar keuangan Indonesia. Hal itu lantas menjadi salah satu hal yang mendorong Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan BI-7DRR menjadi 6 persen. “Tujuannya untuk meningkatkan stabilitas nilai tukar rupiah. Kita aka terus lakukan upaya menjaga stabilitas dengan intervensi di pasar,” ujar Juda. 

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement