Jumat 20 Oct 2023 19:32 WIB

GPEI: Potensi Rempah dan Herbal Indonesia untuk Mendunia Sangat Besar

Devisa hasil ekspor produk rempah-rempah dan herbal nilainya sangat signifikan.

Parfum minyak atsiri nilam (Pogostemon cablin Benth) di Pusat Unggulan Iptek Nilam Aceh Atsiri Research Center (ARC) Universitas Syiah Kuala (Unsyiah), Banda Aceh, Aceh, Senin (18/10/2021)
Foto: ANTARA/Syifa Yulinnas
Parfum minyak atsiri nilam (Pogostemon cablin Benth) di Pusat Unggulan Iptek Nilam Aceh Atsiri Research Center (ARC) Universitas Syiah Kuala (Unsyiah), Banda Aceh, Aceh, Senin (18/10/2021)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Gabungan Perusahaan Ekspor Indonesia (GPEI) menyatakan potensi produk rempah-rempah dan herbal Indonesia untuk menguasai pasar ekspor dunia sangat besar.

Menurut Ketua GPEI Benny Soetrisno melalui keterangan tertulis di Jakarta, Jumat (20/10/2023), pada 2021, Indonesia memiliki 189 eksportir minyak atsiri yang tersebar di seluruh provinsi dengan total nilai ekspor 248,5 juta dolar AS. Provinsi Jawa Barat merupakan provinsi penyumbang ekspor minyak atsiri terbesar dengan nilai sebesar 91,9 juta dolar AS, setara 36,9 persen total ekspor minyak atsiri Indonesia.

Baca Juga

Oleh karena itu, menurut Benny untuk lebih mengenalkan produk rempah-rempah, herbal dan hasil bumi Indonesia ke pasar global GPEI turut berpartisipasi aktif dalam memamerkan produk-produk untuk tujuan ekspor dalam ajang pameran Trade Expo Indonesia (TEI) 2023 di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD City, Kabupaten Tangerang, Banten.

"Diharapkan TEI ini dapat meningkatkan peluang transaksi lebih besar, karena melalui TEI eksportir nasional dapat bertemu secara langsung dengan para pembeli potensial dari mancanegara," ujar dia.

 

Sementara itu Wakil Ketua Umum III Bidang Manufaktur, Pertambangan, Kehutanan dan Investasi DPP GPEI Abdul Sobur menambahkan melalui TEI diharapkan menjadi momentum bagi eksportir untuk meningkatkan ekspornya ke negara tujuan ekspor. Baik yang negara tujuan yang aksesnya sudah terbuka maupun negara tujuan baru yang potensial sehingga produk rempah dan herbal Indonesia semakin mendunia.

Menurut dia, devisa yang dihasilkan dari ekspor produk berupa rempah-rempah, herbal dan hasil bumi Indonesia ke mancanegara nilainya sangat signifikan untuk berkontribusi ke APBN. "Kami berharap Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah bersama-sama dengan seluruh pemangku kepentingan perlu untuk mengakselerasi adanya program "Indonesia Spice Up the World” yang bertujuan meningkatkan ekspor rempah-rempah melalui promosi Gastronomi Indonesia," katanya.

Abdul Sobur mengungkapkan produksi rempah-rempah Indonesia masih menempati peringkat ke-4 secara global, setelah India, China, dan Nigeria. Sementara untuk kinerja ekspor, Indonesia masih berada di peringkat 10 besar, setelah China, India, Belanda, dan Jerman.

Dengan potensi pengunjung TEI 2023 yang diperkirakan sebanyak 30 ribu orang, di mana di antaranya akan ada sebanyak 6.000 buyer dari 150 negara, lanjutnya, maka pameran yang berlangsung 18-22 Oktober 2023 ini merupakan salah satu ajang yang sangat tepat bagi upaya untuk mencapai tujuan agar rempah-rempah Indonesia semakin mendunia dan kembali berjaya.

 

 

sumber : ANTARA
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement