Jumat 20 Oct 2023 17:08 WIB

Petani Keluhkan Sulit Akses Solar Subsidi, Menteri ESDM: Petani Harus Jadi Prioritas

Arifin menyatakan akan meminta timnya mengecek sulitnya akses solar oleh petani.

Rep: Intan Pratiwi/ Red: Fuji Pratiwi
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif saat konferensi pers usai kegiatan G20 Energy Transitions Ministerial Meeting (ETMM) di Nusa Dua, Badung, Bali, Jumat (2/9/2022).
Foto: ANTARA/Fikri Yusuf
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif saat konferensi pers usai kegiatan G20 Energy Transitions Ministerial Meeting (ETMM) di Nusa Dua, Badung, Bali, Jumat (2/9/2022).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Arifin Tasrif mengatakan solar subsidi maupun BBM subsidi mestinya menjadi prioritas untuk disalurkan ke petani. Apalagi, saat ini petani menghadapi musim kering dan membutuhkan tambahan alat pompa untuk irigasi sawah.

"Harusnya petani dapat, mereka diprioritaskan. Nanti saya kirim tim untuk evaluasi dan saya cek kenapa petani enggak dapat," kata Arifin di Kementerian ESDM, Jumat (20/10/2023).

Baca Juga

Di tempat terpisah, seorang petani penggarap, Komarudin, mengaku tak mudah menghadapi musim kemarau kali ini. Ia harus mengejar panen untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Hanya saja, sulitnya akses air membuat pria 56 tahun ini merogoh kocek lebih dalam untuk membeli BBM untuk menghidupkan pompa air, kebutuhan pupuk hingga obat hama.

Menggarap lahan sawah hampir 50 hektare, ia bersama 12 petani penggarap lainnya harus patungan untuk membeli solar dan bensin untuk menyalakan pompa air dan alat pertanian lainnya. 

"Air lagi susah. Dapet nyedot ini buat sawah (harus mengoperasikan pompa untuk air untuk mengalirkan air)," ujar Komarudin kepada Republika sembari menanam benih di salah satu sawah di Karawang.

Komarudin memerlukan bensin dalam satu hari sebesar 10 liter untuk menyalakan pompa. Sedangkan bahan bakar yang digunakan adalah Pertalite yang didapat oleh dirinya sebesar Rp 12.000 per liter.  

"Bensin beli sendiri, sehari semalem satu dantang (10 liter)," artinya Komarudin perlu merogoh kocek Rp 120.000 per hari hanya untuk membayar pompa air agar sawahnya terus teraliri air. 

Padahal, kata pria asli Karawang ini harus melakukan teknik ini selama tiga bulan berturut turut karena tak kunjung turun hujan. "Kalau enggak ada hujan, ya airnya kurang, ya harus nyedot atuh," ujar Komarudin.

Artinya, untuk satu hektare tanah yang ia kelola bersama petani lainnya memerlukan uang hampir Rp 10 juta lebih selama tiga bulan masa kekeringan. Padahal dia bersama 12 petani lainnya menggarap hampir 50 hektar sawah.

Pil pahit ini harus ditelan oleh Komarudin dan teman-temannya sebab mereka tak punya akses membeli solar subsidi. Sebab, solar subsidi baru bisa didapat jika menggunakan kendaraan.

"Kalau mau solar murah kan enggak boleh pakai jerigen, harus pakai mobil. Kita kan enggak punya mobil. Gimana atuh, padahal kita udah punya Kartu Tani, tapi tetep enggak boleh beli yang subsidi," keluh Sami'in, rekan Komarudin.

 

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement