Senin 02 Oct 2023 15:45 WIB

Bank Dunia: Pertumbuhan Ekonomi Asia Timur dan Pasifik Tetap Tercepat

Namun, ekonomi kawasan ini diprediksi melandai pada sisa separuh 2023 dan 2024.

Rep: Novita Intan/ Red: Fuji Pratiwi
Sebuah derek mengangkat peti kemas di pelabuhan otomatis di Tianjin, China, Senin, 16 Januari 2023 (ilustrasi).
Foto: AP Photo/Mark Schiefelbein
Sebuah derek mengangkat peti kemas di pelabuhan otomatis di Tianjin, China, Senin, 16 Januari 2023 (ilustrasi).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA-- Bank Dunia menyebut kawasan Asia Timur dan Pasifik menjadi salah satu kawasan yang bertumbuh paling cepat dan paling dinamis di dunia. Pertumbuhan di Kawasan Asia Timur dan Pasifik yang sedang berkembang diproyeksikan lima persen pada 2023.

Wakil Presiden Bank Dunia untuk Asia dan Pasifik Manuela V Ferro mengatakan pertumbuhan tersebut akan melandai paruh kedua 2023 dan diperkirakan menjadi 4,5 persen selama 2024. "Kawasan Asia Timur dan Pasifik masih menjadi salah satu kawasan yang bertumbuh paling cepat dan paling dinamis di dunia, meskipun angka pertumbuhan melambat," ujar Manuel saat konferensi pers, Senin (2/10/2023).

Baca Juga

Berdasarkan laporan East Asia and Pacific (EAP) October 2023, pertumbuhan di kawasan tahun ini lebih tinggi daripada pertumbuhan rata-rata yang diproyeksikan seluruh pasar berkembang dan ekonomi berkembang (emerging market and developing economies) lainnya, tetapi lebih rendah daripada yang diproyeksikan sebelumnya. 

Pertumbuhan di China pada 2023 diproyeksikan sebesar 5,1 persen dan di kawasan tanpa memasukkan China diproyeksikan 4,6 persen. Pertumbuhan negara-negara Kepulauan Pasifik diproyeksikan menjadi 5,2 persen. 

Pada 2024, kondisi eksternal yang membaik akan membantu pertumbuhan bagian lain kawasan ini, akan tetapi permasalahan yang tetap ada di China. "Memudarnya kebangkitan akibat pembukaan kembali perekonomian, peningkatan utang, serta lemahnya sektor properti, faktor-faktor struktural, seperti usia warga yang semakin tua menjadi beban bagi pertumbuhan di China, mengakibatkan perlambatan menjadi 4,4 persen pada 2024," ucapnya.

Adapun pertumbuhan bagian lain kawasan ini diharapkan mendekati 4,7 persen pada 2024. Hal ini seiring pemulihan pertumbuhan global dan kondisi finansial yang semakin mudah yang mengimbangi dampak perlambatan pertumbuhan di China dan langkah-langkah kebijakan di negara-negara lain. 

"Meningkatnya tekanan geopolitik, serta kemungkinan terjadinya bencana alam, termasuk kejadian-kejadian cuaca ekstrim, merupakan beberapa risiko yang dihadapi pada prospek perekonomian kawasan ini," ucap Manuel.

Sementara itu Kepala Ekonom Bank Dunia Kawasan Asia Timur dan Pasifik Aaditya Mattoo menambahkan, selama jangka menengah, untuk menjaga angka pertumbuhan tetap tinggi, dibutuhkan berbagai refomasi untuk mempertahankan daya saing sektor industri, melakukan diversifikasi mitra dagang, serta memperbesar potensi sektor jasa untuk meningkatkan produktivitas dan menciptakan lapangan pekerjaan.

"Sektor jasa dapat memainkan peran yang semakin penting dalam mendorong pembangunan di kawasan yang dikenal dengan pertumbuhan yang didorong oleh sektor manufaktur," ucapnya.

Adapun sektor jasa telah menjadi kontributor utama bagi produktivitas tenaga kerja secara agregat selama satu dekade terakhir. Ekspor jasa mengalami pertumbuhan lebih cepat daripada ekspor barang. 

Pertumbuhan investasi asing langsung sektor jasa telah melampaui investasi asing langsung sektor manufaktur lima kali lebih besar di China, Indonesia, Malaysia, Filipina, dan Thailand. Perpaduan antara teknologi digital dengan reformasi sektor jasa meningkatkan performa perekonomian. 

 

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement