Selasa 26 Sep 2023 07:18 WIB

Kemenkeu Yakin Anggaran Pemilu akan Dorong Konsumsi

Abdurohman mengatakan salah satu dampaknya yakni tingkat konsumsi.

Rep: Rahayu Subekti/ Red: Ahmad Fikri Noor
Kantor Kementerian Keuangan (Kemenkeu).
Foto: Dok Kemenkeu
Kantor Kementerian Keuangan (Kemenkeu).

REPUBLIKA.CO.ID, BOGOR -- Kementerian Keuangan (Kemenkeu) memproyeksikan anggaran pemilu dapat memiliki sejumlah dampak. Kepala Pusat Kebijakan Ekonomi Makro Kemenkeu Abdurohman mengatakan salah satu dampaknya yakni tingkat konsumsi.

"Kalau hitung-hitungan kami untuk dampak pemilu itu bisa kita pilih menjadi dampak yang sifatnya langsung berupa alokasi belanja pemilu pada 2023 dan 2024. Jadi dampak langsungnya akan masuk ke konsumsi," kata Abdurohman di Grand Aston Puncak Bogor, Senin (25/9/2023).

Baca Juga

Dia menjelaskan, komponen konsumsi pemerintah menampung komponen belanja yang sifatnya operasional. Beberapa di antaranya yakni pegawai, belanja barang, dan material. Untuk alokasi belanja penyelenggaraan pemilu, pemerintah menganggarkan dana sebesar Rp 11,52 triliun pada 2023 dan Rp 15,87 triliun pada 2024.  

"Jadi anggaran itu sifatnya akan langsung ke konsumsi pemerintah," ucap Abdurohman.

Sementara untuk dampak tidak langsung dari anggaran belanja tersebut, Abdurohman akan terlihat pada ke konsumsi masyarakat. Sebab, lanjut dia, sebagian dibelanjakan ke honor petugas pemilu sehingga memberikan efek tak langsungnya.

Lalu untuk efek pemilu lainnya akan mendorong belanja yang dilakukan calon legislatif (caleg) dengan asumsi rata-rata pengeluaran Rp 1 miliar per orang dan caleg DPRD berkisar Rp 200 juta. "Hitung-hitungan kami pada tahun sebelumnya itu sekitar delapan ribu caleg. Jadi kalau pengeluaran partai atau caleg lembaga non profit dan juga akan mendorong konsumsi masyarakat," ungkap Abdurohman.

Selain itu, Abdurohman menyebut, juga ada tambahan PDB pada 2023 sekitar 0,2 persen. Lalu juga nanti pada 2024 diperkirakan hingga 0,27 persen.

Sementara itu, Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede menilai dampak pemilu jika mengulas dari tahun-tahun sebelumnya cenderung bervariasi. "Pada 2019 cenderung bias karena menghadapi situasi perang dagang global dan dampaknya kepada rupiah cenderung pelemahan menjelang pemilu," kata Josua dalam kesempatan yang sama.

Sementara itu pada pemilu 2004. Josua melihat kondisi IHSG dari sisi rupiah cenderung mengalami pelemahan sementara. Lalu, saat hasil pemilu selesai dan kondisi politik stabil maka investor kembali percaya diri kembali.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement