Senin 11 Sep 2023 14:43 WIB

Cadangan Beras Disebut Aman, Tapi Masih Jajaki Impor

Bulog mendapatkan kuota impor beras sebesar 2,4 juta ton.

Rep: Intan Pratiwi/ Red: Lida Puspaningtyas
Presiden Jokowi saat meninjau persediaan beras di Gudang Badan Urusan Logistik (Bulog) Dramaga, Kabupaten Bogor, pada Senin (11/9/2023).
Foto: Dok Rusman/ Biro Pers Sekretaria
Presiden Jokowi saat meninjau persediaan beras di Gudang Badan Urusan Logistik (Bulog) Dramaga, Kabupaten Bogor, pada Senin (11/9/2023).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pemerintah Indonesia sedang menjajaki kerja sama impor beras dengan sejumlah negara, seperti Kamboja, India, Bangladesh, dan China untuk mengamankan kebutuhan masyarakat di dalam negeri.

Menurut Presiden Joko Widodo (Jokowi), pembicaraan terkait impor beras telah dijajaki bersama Perdana Menteri Kamboja Hun Manet, PM India Narendra Modi, Presiden Bangladesh Mohammed Shahabuddin, dan PM China Li Qiang.

Baca Juga

“Ini untuk memastikan kita memiliki cadangan strategis stok guna menjaga agar tidak terjadi kenaikan (harga) karena memang produksi pasti turun disebabkan oleh El Nino,” kata Jokowi ketika meninjau Gudang Bulog Dramaga, Bogor, Jawa Barat, Senin (11/9/2023).

Meskipun pembicaraan awal sudah dilakukan, Jokowi mengungkapkan hingga saat ini pemerintah belum memutuskan kerja sama impor beras dengan negara tertentu, karena masih perlu bernegosiasi soal harga.

“Saya ini berbicara dengan kepala negara/kepala pemerintahan kemudian ditindaklanjuti negosiasinya oleh Bulog. Kalau barangnya ada (negosiasi) di antara pemimpin sudah oke, tetapi harganya tidak nyambung kan tidak ketemu. Jadi, masalah harga tetap menjadi hal penting dalam negosiasi tentang jadi atau tidak transaksinya,” ujar Presiden Jokowi.

Sebelumnya dikabarkan, dalam pertemuan bilateral dengan PM Kamboja Hun Manet di sela-sela KTT ASEAN di Jakarta, pekan lalu, Jokowi menyampaikan keinginan Indonesia untuk mengimpor sekitar 250 ribu ton beras per tahun dari Kamboja.

Proses impor beras dari Kamboja itu akan mendukung tambahan stok beras dari sejumlah negara yang diperkirakan totalnya mencapai 400 ribu ton. Jumlah tersebut, kata Jokowi, akan menambah cadangan beras di gudang-gudang Bulog yang saat ini berjumlah 1,6 juta ton, yang disebutnya sudah di atas kondisi normal, yakni 1,2 juta ton.

Namun, untuk mengantisipasi dampak El Nino tahun ini serta mengamankan pasokan hingga tahun depan, Presiden Jokowi menganggap masih perlu impor dari sejumlah negara.

“Kalau stok kita sudah banyak, tetapi kita tetap melihat di mana bisa kita beli (beras)… tidak hanya untuk sekarang tetapi juga untuk antisipasi (kebutuhan) tahun depan,” ujar Presiden Jokowi.

Meski demikian, Kepala Perum Bulog Budi Waseso memastikan pemerintah Indonesia tidak akan melakukan impor beras lagi. Kata dia, saat ini seluruh kegiatan impor beras telah selesai dilakukan. "Sudah selesai. Kita tidak impor lagi," kata Buwas di Gudang Bulog.

Buwas menjelaskan meski belum seluruhnya masuk ke gudang bulog, tapi proses pengadaan beras dari sisi impor telah semua dilakukan. "Udah selesai pengadaannya, bukan semua sudah masuk. Sudah aman," ujar Buwas.

Kata Buwas, proses beras impor tersebut untuk sampai ke masyarakat butuh waktu tidak dalam satu malam. Kata dia, beberapa kuota sedang dalam perjalanan, sedangkan lainnya masih dalam tahap packing.

"Kan ini juga harus lewat karantina. Yang penting sudah selesai tugas kami untuk impot. Kita masih ada yang packing, ada yang perjalanan," kata Buwas.

Sisa impor beras terakhir yang dilakukan Bulog sebesar 400 ribu ton. Tahun ini, Bulog mendapatkan kuota impor beras sebesar 2,4 juta ton. Sedangkan, sisa stok cadangan beras pemerintah berada di angka 1,5 juta ton.

sumber : Antara

Dapat mengunjungi Baitullah merupakan sebuah kebahagiaan bagi setiap Umat Muslim. Dalam satu tahun terakhir, berapa kali Sobat Republika melaksanakan Umroh?

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement