Kamis 07 Sep 2023 20:30 WIB

Harga Beras Naik Terus Bisa Inflasi Tinggi? Ini Kata Bank Indonesia

BI sebut cadangan beras pemerintah sangat cukup penuhi pasokan.

Rep: Rahayu Subekti/ Red: Lida Puspaningtyas
Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Aida Budiman.
Foto: ANTARA/Muhammad Adimaja
Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Aida Budiman.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Bank Indonesia (BI) mengungkapkan saat ini harga saat ini harga beras naik karena masuknya persiapan siklus tanam padi. Meskipun begitu, Deputi Gubernur BI Aida S Budiman optimistis pasokan beras tetap terjaga.

"Seperti dalam Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Pengendalian Inflasi pada 31 Agustus 2023 di Istana Negara, cadangan beras Pemerintah sangat cukup untuk memenuhi pasokan. Jadi mudah-mudahan bisa terjaga," kata Aida kepada Republika.co.id, Kamis (7/9/2023).

Baca Juga

Aida menyebut saat ini memang memasuki periode panen gadu yang berlangsung di beberapa daerah. Hal itu membuat jumlah produksi beras yang lebih rendah dari periode panen raya.

Sebagai informasi, berdasarkan pemantauan harga di Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) per 7 September 2023, beras mengalami kenaikan harga sebesar 2,39 persen secara bulanan.

 

"Secara rata-rata nasional berada pada level Rp 13.900 per kilogram untuk beras jenis medium," ucap Aida.

Aida memastikan, dalam hitungan BI semua masih sesuai proyeksi sehingga sampai akhir tahun masih dalam kisaran bahkan bawah mid point. Dia menuturkan, beras memiliki bobot pada indeks harga konsumen berkisar tiga persen.

Lebih lanjut, Aida memastikan dalam Rakornas Pengendalian Inflasi Agustus 2023 juga ditetapkam sinergi kebijakan dalam pengendalian inflasi pangan. Upaya tersebut akan ditempuh melalui lima langkah kebijakan.

Kebijakan pertama, Aida menyebut akan mengoptimalkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) untuk pengendalian inflasi melalui intervensi pasar.

"Ini untuk mengurangi gejolak harga komoditas pangan terutama beras, dan penguatan cadangan pangan daerah, termasuk pengaturan penyalurannya," jelas Aida.

Kebijakan kedua yaitu dnegan memperkuat sarana dan prasarana pertanian dalam rangka meningkatkan produktivitas pertanian. Lalu ketiga yakni mengintegrasikan data stok dan neraca pangan daerah untuk penyusunan kebijakan pengendalian inflasi, terutama untuk memperkuat kerja sama antardaerah.

Lalu keempat yatu memperkuat infrastruktur dan rantai pasok untuk memperlancar distribusi barang dan jasa. Kebijakan kelima yakni dengan memperkuat komunikasi dan sinergi koordinasi kebijakan pengendalian inflasi untuk menjaga ekspektasi inflasi.

Sebelumnya, Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menekankan upaya pengendalian inflasi akan diperkuat. Khususnya juga dalam mengantisipasi dampak terjadinya El Nino agar mencapai penurunan inflasi pada 2024.

Penguatan sinergi kebijakan antara pemerintah pusat dan daerah dengan Bank Indonesia dalam pengendalian inflasi khususnya untuk memitigasi gangguan jangka pendek seperti dampak El Nino," kata Perry dalam Press Statement Hasil Rapat Koordinasi Nasional Pengendalian Inflasi 2023, Kamis (31/8/2023).

Perry menjelaskan, gangguan jangka pendek El Nino yakni ketersediaan pasokan. Selain itu juga berkaitan dengan keterjangkauan harga maupun penanganan permasalahan struktural pengendalian inflasi seperti produktivitas, kelancaran distribusi, integrasi data, penguatan kelembagaan, dan SDM.

Saat ini inflasi indeks harga konsumen (IHK) turun lebih cepat. Bank Indonesia juga mencatat, inflasi sudah kembali pada sasarannya yaitu tiga plus minus satu persen.

Pada Juli 2023, inflasi turun dari 5,51 persen pada akhir 2022 menjadi 3,08 persen secara tahunan. Capaian inflasi tersebut juga dinilai menjadi yang terendah di dunia.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement