Jumat 01 Sep 2023 22:49 WIB

Saldo Nasabah Simpanan Daerah Melonjak Rp 65,8 Triliun Per Juli 2023

Asbanda mencatat ada kenaikan khusus untuk saldo Simpeda di BPD

Rep: Novita Intan/ Red: Ichsan Emrald Alamsyah
Kolaborasi GoPay dan Bank Pembangunan Daerah Nusa Tenggara Barat (Bank NTB Syariah) (ilustrasi).
Foto: Bank NTB Syariah
Kolaborasi GoPay dan Bank Pembangunan Daerah Nusa Tenggara Barat (Bank NTB Syariah) (ilustrasi).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Bank Pembangunan Daerah (BPD) optimis mampu memperkuat ekonomi daerah masing-masing. Hal ini tercermin dari tabungan simpanan pembangunan daerah sebanyak 7,92 juta orang, dengan total saldo sebesar Rp 65,8 triliun per Juni 2023.

Ketua Umum Asosiasi Bank Pembangunan Daerah (Asbanda) Yuddy Renaldi mengatakan BPD mampu mendorong dana murah untuk mendorong perekonomian daerah."Dari sisi penabung terjadi peningkatan 1,97 persen atau naik 153.327 penabung. Untuk saldo Simpeda-nya meningkat 3,78 persen, naik Rp 2,39 triliun," ujarnya saat webinar BPD Seluruh Indonesia Corporate Digital Culture: Digital Transformation Leader, Kamis (31/8/2023).

Menurutnya Asbanda telah menggelar penarikan Undian Nasional Tabungan Simpeda Periode I Tahun XXXIV 2023 di Makassar, Sulawesi Selatan. Hal ini diharapkan mampu mendorong dana murah BPD dan perekonomian daerah.

Sementara itu, Direktur Utama Bank Sulselbar, Yulis Suandi, menambahkan tabungan Simpeda merupakan program customer loyalty, yang dikhususkan bagi nasabah tabungan Simpeda di Indonesia. "Ini tabungan produk penghimpunan dana masyarakat dan sebagai salah satu pemersatu BPD di Indonesia," ucapnya.

Asisten Ekonomi, Pembangunan, dan Kesejahteraan Provinsi Sulsel, Ichsan Mustari, menambahkan saat ini pihaknya terus mendorong pertumbuhan ekonomi di daerahnya masing-masing. Hadirnya Asbanda, diharapkan mampu ikut berpartisipasi mendorong investasi antar daerah.

“Dorongan dari BPD, dengan menghadirkan investasi dalam hal kerja sama antar daerah sangat kami harapkan,” ucapnya.

Berdasarkan Statistik Perbankan Indonesia Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per April 2023, laba bersih BPD sebesar Rp 4,31 triliun. Angka ini merosot 15 persen secara tahunan sebesar Rp 5,08 triliun pada April 2022.

Perlambatan pertumbuhan laba BPD disebabkan adanya tren kenaikan suku bunga serta pengetatan likuiditas yang dilakukan oleh bank sentral. Himpunan dana mahal (deposito) dalam portofolio dana pihak ketiga juga menjadi faktor yang memperlambat laju pertumbuhan laba BPD.

Mengacu pada data SPI, total akumulasi simpanan rupiah BPD per April 2023 sebesar Rp 730,39 triliun. Adapun simpanan deposito tercatat paling tinggi sebesar Rp 329,82 triliun, tabungan sebesar Rp 201,90 triliun, dan giro sebesar Rp 198,66 triliun.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement