Jumat 18 Aug 2023 09:43 WIB

Saham Blue Chip Berjatuhan, IHSG Dibuka Terkoreksi

Phillip Sekuritas Indonesia memproyeksi IHSG akan cenderung melemah hari ini.

Rep: Retno Wulandhari/ Red: Fuji Pratiwi
Seorang pria melintas di depan layar digital pergerakan harga saham di gedung BEI, Jakarta, Selasa (11/10/2022).
Foto: ANTARA/Akbar Nugroho Gumay
Seorang pria melintas di depan layar digital pergerakan harga saham di gedung BEI, Jakarta, Selasa (11/10/2022).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka di zona merah pada perdagangan pada Jumat (18/8/2023). IHSG melemah ke level 6.899,83 setelah mengalami koreksi sebesar 0,21 persen pada penutupan perdagangan sebelumnya. 

Pelemahan saham blue chip menjadi pemberat IHSG di awal perdagangan hari ini, salah satunya saham TLKM yang terpangkas 1,57 persen. Selanjutnya, saham BMRI anjlok 1,29 persen, serta ASII jatuh 1,11 persen.

Baca Juga

Phillip Sekuritas Indonesia memproyeksi IHSG akan cenderung melemah hari ini. "IHSG diprediksi bearish dengan Support di level 6.820 dan Resistance di level 6.960," tulis Phillip Sekuritas Indonesia dalam risetnya. 

Indeks saham di Asia pagi ini dibuka turun karena investor mencerna rilis data inflasi Jepang dan pukulan terkini pada sektor properti Cina. Inflasi utama di Jepang naik 3,3 persen, namun inflasi inti melambat menjadi 3,1 persen dari 3,3 persen.

Di Cina, sejumlah perusahaan BUMN pengembang properti memberi sinyal menderita kerugian dalam jumlah besar. Hal ini memicu kekhawatiran bahwa krisis perumahan telah menular dari perusahaan pengembang properti swasta ke perusahaan pengembang properti yang didukung oleh pemerintah.

Indeks saham utama di Wall Street semalam memperpanjang penurunan menjadi tiga hari beruntun. Di pasar obligasi, imbal hasil surat utang Pemerintah AS bertenor 10 tahun sempat menyentuh 4,33persen, tertinggi sejak November 2007, sebelum akhirnya berakhir di 4,29 persen.

"Investor berusaha menerima potensi suku bunga akan bertahan di level yang tinggi untuk waktu yang lebih lama serta pelemahan lebih lanjut pada ekonomi Cina," kata Phillip Sekuritas Indonesia.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement