Rabu 26 Jul 2023 13:15 WIB

AAJI: Porsi Klaim Kesehatan 1,09 Miliar Dolar AS tak Bernilai Sedikit

Dalam 5 tahun terakhir, nilai klaim asuransi kesehatan individu terus naik.

Petugas keamanan berjalan di depan berbagai logo perusahaan asuransi di kantor Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI), Jakarta, Senin (6/7/2020).
Foto: ANTARA/Dhemas Reviyanto
Petugas keamanan berjalan di depan berbagai logo perusahaan asuransi di kantor Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI), Jakarta, Senin (6/7/2020).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ketua Dewan Pengurus Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) Budi Tampubolon menyatakan porsi klaim kesehatan sebesar 1,09 miliar dolar Amerika Serikat (AS) pada 2022 dari total 11,62 miliar dolar AS klaim dan manfaat asuransi yang dibayarkan tak bernilai yang sedikit.

"Sebesar 1,09 miliar dolar ini pada 2022 itu sebesar 0,69 miliar dolar AS untuk asuransi kesehatan individu dan 0,4 miliar dolar AS untuk asuransi kesehatan kumpulan," ujar dia dalam Media Workshop terkait dengan asuransi kesehatan di Jakarta Selatan, Jakarta, Selasa (25/7/2023).

Baca Juga

Dalam lima tahun terakhir, nilai klaim asuransi kesehatan individu (individual health) yang dibayarkan terus meningkat dari 0,31 miliar dolar AS pada 2018 menjadi 0,69 miliar dolar AS pada 2022.

Adapun asuransi kesehatan kumpulan (group health) sebesar 0,34 miliar dolar AS pada 2018 dan menjadi 0,40 miliar dolar AS pada 2022.

Meskipun pada 2022 mengalami penurunan pendapatan premi asuransi jiwa secara keseluruhan, khusus asuransi kesehatan itu mengalami tren kenaikan. Akan tetapi, tren kenaikannya juga diimbangi dengan naiknya nilai klaim.

"Jumlah tertanggung itu meningkat besar dan menariknya adalah baik yang pertanggungan individu maupun pertanggungan asuransi kumpulannya, dua-duanya meningkat secara besar," kata Budi.

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Bidang Produk, Manajemen Risiko, dan GCG AAJI Fauzi Arfan menyarankan masyarakat Indonesia untuk membeli produk asuransi kesehatan saat keadaan sehat. "Kalau beli pada saat sakit, tentunya harganya akan jadi lebih berat dan banyak sekali pengecualian yang dibuat oleh perusahaan asuransi," ujar dia.

Menurut Fauzi, ada perbedaan asuransi komersial dengan social insurance. "Kalau komersial, kami ingin lebih mengembangkan kualitas, kami ingin mengembangkan layanan kepada masyarakat, dan tentunya tidak adil kalau seandainya pembeli itu adalah orang-orang yang sudah sakit," ujarnya.

Akan tetapi, dia melanjutkan, yang adil itu adalah orang-orang yang beli pada saat itu dalam kondisi sehat. Dengan naiknya di gini ratio, tentunya berdampak pada penyesuaian premi dari waktu ke waktu.

 

sumber : ANTARA
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement