Jumat 21 Jul 2023 14:56 WIB

Dirjen: Ekspor Pertanian Ketangguhan Indonesia Atasi Krisis Pangan

Pasar ekspor produk-produk hortikultura Indonesia masih terbuka luas.

Dirjen Hortikultura Prihasto Setyanto menyampaikan penilaian ketangguhan Indonesia dalam mengatasi krisis pangan global. (ilustrasi).
Foto: Antara/Indrianto Eko Suwarso
Dirjen Hortikultura Prihasto Setyanto menyampaikan penilaian ketangguhan Indonesia dalam mengatasi krisis pangan global. (ilustrasi).

REPUBLIKA.CO.ID, TEMANGGUNG -- Dirjen Hortikultura Prihasto Setyanto menyampaikan penilaian ketangguhan Indonesia dalam mengatasi krisis pangan global di tengah-tengah berbagai ancaman dibuktikan dengan perkembangan ekspor pertanian yang meningkat sejak tahun 2019 hingga 2022.

"Ekspor tertinggi saat terjadi pandemi Covid-19, perbandingan ekspor tahun 2020 dan 2021 meningkat 36 persen, bahkan sampai saat ini pun terjadi peningkatan yang cukup signifikan terhadap ekspor komoditas pertanian," katanya di Temanggung, Kamis (20/7/2023).

Baca Juga

Ia menyampaikan hal tersebut pada pembukaan Soropadan Agro Festival 2023 di Agro Centre Soropadan di Kecamatan Pringsurat, Kabupaten Temanggung.

Menurut dia, komoditas hortikultura juga demikian, memberikan kontribusi yang cukup signifikan sejak tahun 2019 hingga tahun 2022. Tahun 2019 tercatat ekspor komoditas hortikultura mencapai 468 juta dolar Amerika Serikat dan tahun 2022 mencapai 735 juta dolar Amerika Serikat.

"Hal ini menunjukkan pasar ekspor produk-produk hortikultura Indonesia masih terbuka luas sejalan dengan permintaan dari negara-negara lain," katanya.

Ia menyampaikan, nilai tukar petani hortikultura berdasarkan angka BPS tahun 2023 juga meningkat signifikan, saat ini di posisi 112,93. "Artinya berusaha di bidang hortikultura ini memberikan suatu penghasilan ekonomi yang baik untuk masyarakat Indonesia," katanya.

Prihasto mengatakan salah satu program dari Ditjen Hortikultura Kementan adalah menumbuhkan kampung-kampung hortikultura bertujuan untuk memudahkan dari aspek pemasaran.

"Sebagai contoh, ada permintaan buah manggis sebanyak 200 ton untuk diekspor ke China dan kita banyak memproduksi manggis, namun masalahnya untuk mengumpulkan sebanyak 200 ton tersebut harus pindah dari satu kecamatan ke kecamatan lain," katanya.

Truk masuk ke salah satu desa hanya mendapat 1 ton, ke desa lainnya mendapat 2 ton. Untuk mengumpulkan 200 ton perlu tenaga dan biaya yang cukup besar. "Inilah salah satu tantangan kita dari aspek kuantitas kita belum bisa memenuhi yang akhirnya ini menyebabkan daya saing kita lemah," katanya.

Oleh karena itu, katanya salah satu program dari Kementan saat ini adalah membentuk kampung-kampung hortikultura. Misalnya suatu daerah cocok ditanami manggis maka fokus di desa tersebut menanam manggis semua, satu desa cocok untuk kelengkeng fokus tanam kelengkeng semua supaya dari aspek pemasaran mudah.

"Truk datang satu desa kalau mau memasarkan butuh 5-10 ton langsung bisa diangkut dari sana, kalau nyicil satu desa hanya dapat 1 ton dan desa lainnya hanya dapat 500 kilogram, ini salah satu daya saing kita lemah, harga ongkos transportasinya mahal sehingga harga produk juga relatif mahal," katanya.

Menurut dia hal ini harus diperbaiki bersama-sama melalui program kampung hortikultura yang dikerjakan oleh Kementan.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement