Kamis 13 Jul 2023 02:57 WIB

BI Inginkan Penggunaan QRIS Sampai Pelosok

Sistem pembayaran digital tersebut dinilai sangat memudahkan transaksi.

Kode batang QRIS (Quick Response Code Indonesian Standard) yang disediakan di salah satu lapak pedagang di pasar. (ilustrasi).
Foto: ABDAN SYAKURA/REPUBLIKA
Kode batang QRIS (Quick Response Code Indonesian Standard) yang disediakan di salah satu lapak pedagang di pasar. (ilustrasi).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Bank Indonesia (BI) menginginkan penggunaan QRIS (Quick Response Indonesian Standard) bisa hingga pelosok daerah di Indonesia, mengingat sistem pembayaran digital tersebut dinilai sangat memudahkan transaksi dan mendorong pertumbuhan ekonomi.

"QRIS merupakan inovasi BI yg pada dasarnya mencari segmen untuk menjawab kebutuhan pembayaran dengan biaya paling murah," kata Kepala Departemen Kebijakan Sistem Pembayaran Bank Indonesia Dicky Kartikoyono kepada media di Jakarta, Rabu.

Baca Juga

Dikatakan, sistem pembayaran digital tersebut selama ini sudah mengalami pertumbuhan yang cukup menggembirakan sekalipun masih memerlukan kembali sosialisasi dan edukasi QRIS di berbagai daerah terutama di daerah 3T (Tertinggal, Terdepan dan Terluar).

Untuk meningkatkan penggunaan QRIS, Kantor Perwakilan BI di provinsi serta bank daerah setempat terus melakukan sosialisasi dan edukasi serta pengembangan penggunaan QRIS sehingga pada akhirnya masyarakat makin memahami dan menggunakan sistem pembayaran digital tersebut.

 

Dicky mengatakan, ke depan QRIS akan dikembangkan sebuah instrumen atau kanal pembayaran lebih luas lagi, seperti transfer hingga bisa sebagai alat untuk tarik dan setor uang.

Dia mencontohkan Seorang TKI Malaysia mengirim sebagian pendapatan ke orang tua di pedalaman Kalimantan dan orang tua secara real time bisa langsung mengambil uang di ATM. "BI sudah minta para pelaku industri untuk terus melakukan inovasi sehingga bisa memudahkan masyarakat untuk bertransaksi menggunakan sistem pembayaran digital dengan melibatkan pelaku industri," katanya.

BI berharap nantinya transaksi dengan uang digital bisa melewati transaksi tunai, mengingat dengan pembayaran tunai membutuhkan biaya tinggi seperti cetak dan mengedarkan uang.

"Selain itu dengan dengan pembayaran digital ikuti kemajuan zaman dari sisi efisiensi perekonomian pembayaran digital aspeknya berdampak mengubah keseluruhan konfigurasi sistem ekonomi," kata Dicky.

Dilihat dari sistem keamanan dan keandalan, BI memastikan QRIS akan terjaga terus, juga fitur berkembang terus hingga melayani semua kebutuhan masyarakat sampai lapisan bawah. "Ini salah satu upaya BI mencari sumber pertumbuhan ekonomi baru yang ada di pelosok-pelosok dan tergolong mikro kecil," katanya.

Volume transaksi QRIS pada Mei mencapai 184,3 juta, sementara dari Januari-Mei 2023 mencapai 744 juta transaksi dengan nominal Rp 18,1 triliun. Sementara jumlah jasa penyedia pembayaran mencapai 97 yang terdiri dari 63 bank dan 34 nonbank.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement