Rabu 28 Jun 2023 09:06 WIB

Inflasi Melambat, Kanada Diperkirakan Tidak Naikkan Suku Bunga

Inflasi tahunan Kanada turun menjadi 3,4 persen dari 4,4 persen pada April.

Rep: Retno Wulandhari/ Red: Friska Yolandha
Bank sentral Kanada (Bank of Canada). Tingkat inflasi tahunan Kanada mencapai 3,4 persen pada Mei 2023.
Foto: Wikimedia Commons
Bank sentral Kanada (Bank of Canada). Tingkat inflasi tahunan Kanada mencapai 3,4 persen pada Mei 2023.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Tingkat inflasi tahunan Kanada mencapai 3,4 persen pada Mei 2023. Ini merupakan laju paling lambat dalam dua tahun terakhir dan berpotensi memperlambat kenaikan suku bunga di periode selanjutnya.

Hasil riset yang dihimpun Reuters memperkirakan inflasi tahunan turun menjadi 3,4 persen dari 4,4 persen di April. Secara bulanan indeks harga konsumen naik 0,4 persen, lebih rendah dari perkiraan 0,5 persen.

Baca Juga

Data-data tersebut sejalan dengan ekspektasi Bank of Canada bahwa inflasi akan turun menjadi sekitar tiga persen pada pertengahan tahun. Bank sentral menaikkan suku bunga menjadi 4,75 persen pada awal Juni, tertinggi dalam 22 tahun.

Hal itu seiringan dengan kenaikan inflasi pada April yang menunjukkan ekonomi berjalan lebih panas dari yang diperkirakan. Setelah kenaikan suku bunga terakhir, Bank of Canada mengatakan akan mengukur data ekonomi untuk memutuskan apakah akan terus menaikkan biaya pinjaman.

Wakil presiden pasar modal di Scotiabank, Derek Holt, melihatBank of Canada mungkin akan absen menaikkan suku bunga pada Juli. Namun kenaikan selanjutnya diperkirakan terjadi pada September 2023.

Pelaku pasar melihat kemungkinan 59 persen kenaikan 25 basis poin pada 12 Juli, turun dari 64 persen sebelum rilis angka inflasi. Mereka melihat peluang kenaikan hingga seperempat basis poin di September.

"Dengan pasar tenaga kerja juga melonggar pada Mei, potensi kenaikan suku bunga di Juli tidak sekuat yang terlihat beberapa minggu lalu, namun kemungkinan kenaikan bulan tersebut masih ada," kata wakil kepala ekonom Amerika Utara di Capital Economics Stephen Brown.

sumber : Reuters
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement