Rabu 07 Jun 2023 07:49 WIB

Bappenas: Pendapatan per Kapita Indonesia Hampir Disundul Vietnam

Pendapatan per kapita Indonesia tercatat sebesar 4.140 dolar AS per tahun.

Rep: Dian Fath Risalah/ Red: Ahmad Fikri Noor
Menteri PPN/Kepala Bappenas Suharso Monoarfa dalam acara Rektor Berbicara Untuk Indonesia Emas 2045, Selasa (6/6/2023).
Foto: Republika/Dian Fath Risalah
Menteri PPN/Kepala Bappenas Suharso Monoarfa dalam acara Rektor Berbicara Untuk Indonesia Emas 2045, Selasa (6/6/2023).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA - Menteri PPN/Kepala Bappenas, Suharso Monoarfa, mengatakan dalam waktu dekat Indonesia berpotensi disundul oleh Vietnam dalam hal Gross National Income (GNI) atau pendapatan per kapita. Hal tersebut ia sampaikan dalam acara Rektor Berbicara Untuk Indonesia Emas 2045 di Gedung Bappenas Jakarta, Selasa (6/6/2023) sore.

"Indonesia saat ini sebentar lagi dari sisi GNI per kapita akan disundul Vietnam," ujar Suharso.

Baca Juga

Saat ini, pendapatan per kapita Indonesia tercatat sebesar 4.140 dolar AS per tahun atau setara Rp 61,5 juta. Menurut Suharso, pada 1980-an, pendapatan per kapita Indonesia bahkan masih lebih kuat dibandingkan China. Indonesia juga lebih dulu lepas dari kelompok negara berpendapatan rendah dan masuk pendapatan menengah pada 1981-1982.

"Tapi kita (Indonesia) tahun 1997 turun dan China melejit. Sekarang kita memang sudah di up middle income tapi China sebentar lagi sudah menjadi negara berpenghasilan tinggi," ujar Suharso.

 

Ia pun bercerita saat diundang ke Bangladesh untuk menghadiri perayaan kemerdekaan negara di Asia Selatan tersebut. Saat itu, ia melihat Bangladesh telah berhasil meningkatkan PDB negaranya.

"Berdasarkan kurun waktu 2005-2024, Bangladesh naik lima sampai enam kali lipat, sementara Indonesia hanya naik tiga kali lipat," ungkapnya.

Oleh karena itu, menurut Suharso, pendapatan per kapita Indonesia perlu dinaikkan hingga 30.300 dolar AS agar menjadi negara maju. RPJPN 2025-2045 menetapkan lima kelompok industri prioritas. Pertama, industri berbasis sumber daya alam, meliputi industri berbasis agro (pertanian, perkebunan, kehutanan), industri berbasis hilirisasi tambang, serta industri berbasis sumber daya laut.

Kedua, industri dasar, mencakup industri kimia dasar dan industri logam. Ketiga, industri berteknologi menengah-tinggi, termasuk industri perkapalan, industri kedirgantaraan, industri otomotif dan alat angkut, industri pertahanan, industri alat kesehatan, industri produk kimia dan farmasi, industri mesin dan perlengkapan, dan industri elektronik.

Keempat, industri barang konsumsi berkelanjutan, yakni industri makanan dan minuman, industri tekstil dan produk tekstil, serta industri alas kaki. Kelima, industri berbasis inovasi dan riset, yaitu industri berbasis bio dan bioteknologi.

Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku Republika ...
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement