Senin 15 May 2023 09:29 WIB

Harga Grosir April Jepang Naik, Tapi Inflasi Mereda

Inflasi konsumen inti kemungkinan akan mulai melambat akhir tahun ini.

Rep: Novita Intan/ Red: Lida Puspaningtyas
Aktivitas pekerja Jepang di salah satu jalanan Kota Tokyo. Bank of Japan (BOJ) memproyeksi inflasi konsumen inti kemungkinan akan mulai melambat akhir tahun ini karena efek dari lonjakan biaya bahan baku pada masa lalu mulai menghilang.
Foto: AP
Aktivitas pekerja Jepang di salah satu jalanan Kota Tokyo. Bank of Japan (BOJ) memproyeksi inflasi konsumen inti kemungkinan akan mulai melambat akhir tahun ini karena efek dari lonjakan biaya bahan baku pada masa lalu mulai menghilang.

REPUBLIKA.CO.ID, TOKYO -- Harga grosir Jepang naik 5,8 persen (yoy) pada April 2023. Meski demikian, kecepatannya melambat pada bulan keempat berturut-turut. Hal ini menunjukkan bahwa inflasi konsumen akan mulai moderat karena tekanan tekanan biaya mereda.

Seperti dilansir dari laman Reuters, Senin (15/5/2023) kenaikan indeks harga barang perusahaan (CGPI), yang mengukur harga yang dikenakan perusahaan satu sama lain terhadap barang dan jasa mereka, mengikuti kenaikan tahunan sebesar 7,4 persen pada Maret.

Baca Juga

Indeks harga impor berdenominasi yen turun 2,9 persen (yoy) pada April setelah kenaikan 9,6 persen yang direvisi pada Maret. Data Bank of Japan (BOJ) menunjukkan tanda biaya impor bahan bakar dan bahan mentah memuncak.

Data menggarisbawahi pandangan BOJ bahwa inflasi konsumen inti kemungkinan akan mulai melambat akhir tahun ini karena efek dari lonjakan biaya bahan baku pada masa lalu mulai menghilang.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement