Ahad 30 Apr 2023 16:58 WIB

Indeks Kepercayaan Industri Melambat 0,49 Poin pada April 2023

Indeks Kepercayaan Industri (IKI) April 2023 sebesar 51,38.

Rep: Iit Septyaningsih/ Red: Ahmad Fikri Noor
Pekerja mengerjakan pembuatan mukena di Pabrik Mukena Siti Khadijah, Limo, Depok, Jawa Barat, Rabu (5/4/2023). Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mencatat, Indeks Kepercayaan Industri (IKI) April 2023 sebesar 51,38.
Foto: Republika/Prayogi.
Pekerja mengerjakan pembuatan mukena di Pabrik Mukena Siti Khadijah, Limo, Depok, Jawa Barat, Rabu (5/4/2023). Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mencatat, Indeks Kepercayaan Industri (IKI) April 2023 sebesar 51,38.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mencatat, Indeks Kepercayaan Industri (IKI) April 2023 sebesar 51,38. Angka itu melambat 0,49 poin dibandingkan kondisi Maret 2023. 

Kemenperin menyatakan, meski terjadi perlambatan ekonomi global, pertumbuhan positif ekonomi negara mitra dagang utama pada April 2023 mendorong kinerja industri pengolahan nonmigas membaik. Itu terlihat dari peningkatan aktivitas perdagangan di beberapa negara mitra utama Indonesia. 

Baca Juga

Ditambah lagi, inflasi negara mitra yang terkendali dan menurunnya tren harga komoditas juga mendorong industri terus berekspansi. Momentum Lebaran yang terjadi pada April, dinilai ikut mendorong kinerja beberapa subsektor industri pengolahan nonmigas naik.

Meski melambat, nilai IKI April 2023 masih menunjukkan nilai ekspansi. “Indeks Kepercayaan Industri (IKI) April 2023 mencapai 51,38 melambat 0,49 poin dibandingkan Maret 2023,” kata Juru Bicara Kementerian Perindustrian Febri Hendri Antoni Arif dalam keterangan resmi yang dilansir pada Ahad (30/6/2023).

Ia menyampaikan, walau melambat pada April 2023, terjadi peningkatan jumlah subsektor industri yang mengalami ekspansi yaitu sebanyak 15 subsektor industri, dibandingkan Maret 2023 yang hanya 14 subsektor industri dengan porsi terhadap PDB Industri Pengolahan Nonmigas Tahun 2022 mencapai 80,2 persen. Porsi tersebut ditopang oleh subsektor yang berkontribusi cukup besar seperti Industri Makanan, Bahan Kimia dan Barang dari Bahan Kimia, Industri Kendaraan Bermotor, serta Trailer dan Semi Trailer.

Dilihat dari variabel pembentuknya, kata dia, seluruh indeks variabel pembentuk IKI pada April 2023 mengalami ekspansi. Meski demikian, jika dilihat lebih detail penurunan nilai IKI dikarenakan penurunan nilai variabel persediaan produk sebesar 2,67 poin menjadi 52,33 yang menunjukkan adanya peningkatan stok persediaan dan variabel pesanan baru menurun 0,76 poin menjadi 50,57 yang menunjukkan adanya penurunan pesanan baru. 

Di sisi lain, peningkatan nilai variabel produksi dari 50,69 pada Maret 2023 menjadi 52,08 pada April 2023. Pesanan Domestik masih menjadi faktor dominan yang mempengaruhi indeks variabel pesanan baru.

Febri menjelaskan, penurunan IKI dikarenakan beberapa subsektor yang memiliki share PDB cukup besar mengalami kontraksi setelah sebelumnya mengalami ekspansi. Kedua, variabel pesanan sebagai variabel pembentuk nilai IKI terbesar mengalami penurunan pada April ini.

Hal itu dikarenakan tingginya permintaan rumah tangga selama Ramadhan dan Hari Raya menyebabkan harga produk manufaktur mengalami kenaikan. Di sisi lain belanja keperluan produksi dan belanja pemerintah berkurang signifikan. 

Selain karena faktor harga yang tinggi, jam kerja yang terbatas selama Ramadhan dan hari raya dinilai menjadi penyebab penurunan pesanan. Diyakini bulan depan pesanan domestik akan meningkat karena industri mulai berproduksi normal. 

Menurutnya, ini pola seasonal yang tidak perlu dikhawatirkan. “Mayoritas pelaku usaha menyatakan kondisi usaha secara umum pada April 2023 stabil sebanyak 45,2 persen dan 28,7 persen menjawab kondisi kegiatan usahanya meningkat dibanding dengan Maret 2023," tutur Febri.

Demikian pula pandangan terhadap kondisi usaha enam bulan ke depan. Sebanyak 64,7 persen pelaku usaha lebih optimis, angka ini meningkat dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar 63,5 persen dan menjadi angka tertinggi sejak IKI diluncurkan.

Mayoritas responden yang menjawab optimis menyampaikan keyakinannya akan kondisi pasar akan membaik dan kepercayaannya karena kebijakan pemerintah pusat yang lebih baik. Sedangkan 9,9 persen pelaku usaha masih pesimis dengan kondisi usaha enam bulan ke depan, angka ini juga merupakan nilai terendah sejak IKI diluncurkan.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement