Kamis 23 Mar 2023 12:48 WIB

E-Commerce RI: Pertumbuhan Naik Pesat Pascapandemi, Risiko Penipuan Tertinggi di Asean

Indonesia memiliki persentase pengguna internet tertinggi yang jadi korban penipuan

Pengguna internet banking atau m-banking (ilustrasi). Indonesia memiliki persentase pengguna internet tertinggi (26 persen) di Asia Tenggara yang menjadi korban penipuan di tahun 2021. Berdasarkan data Bareskrim Polri, penipuan online menempati posisi kedua sepanjang Januari-September 2020 yang berkontribusi lebih dari seperempat kasus kejahatan siber pada periode tersebut.
Foto: BRI
Pengguna internet banking atau m-banking (ilustrasi). Indonesia memiliki persentase pengguna internet tertinggi (26 persen) di Asia Tenggara yang menjadi korban penipuan di tahun 2021. Berdasarkan data Bareskrim Polri, penipuan online menempati posisi kedua sepanjang Januari-September 2020 yang berkontribusi lebih dari seperempat kasus kejahatan siber pada periode tersebut.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Lonjakan perdagangan elektronik atau e-commerce di Indonesia yang dipengaruhi oleh pandemi diperkirakan akan terus berlanjut. Transaksi diprediksi meningkat 128 persen hingga mencapai 89 miliar dolar AS dalam nilai transaksi bruto sejak tahun 2023 hingga 2026. Proyeksi nilai transaksi e-commerce Indonesia pada tahun 2026 juga diperkirakan akan melampaui negara-negara tetangga seperti Vietnam (33 miliar dolar AS), Thailand (26 miliar dolar AS), dan Filipina (17 miliar dolar AS).

Proyeksi yang optimistis ini muncul dalam laporan IDC (International Data Corporation) terbaru yang dikeluarkan oleh platform pembayaran2C2P dan Merchant Risk Council (MRC), asosiasi keanggotaan global untuk para praktisi pembayaran dan pencegahan transaksi penipuan. Laporan ini juga menyoroti bahwa pesatnya perkembangan lanskap pembayaran berdampak pada peningkatan transaksi penipuan di dunia maya. 

Indonesia memiliki persentase pengguna internet tertinggi (26 persen) di Asia Tenggara yang menjadi korban penipuan di tahun 2021. Berdasarkan data Bareskrim Polri, penipuan online menempati posisi kedua sepanjang Januari-September 2020 yang berkontribusi lebih dari seperempat kasus kejahatan siber pada periode tersebut.

Dengan pertumbuhan belanja online, dompet seluler memainkan peran penting dalam memfasilitasi transaksi online. Menurut IDC InfoBrief, "Cara Asia Tenggara Bertransaksi di Tahun 2022: Peluang, Konektivitas, dan Risiko Baru", tercatat lebih dari satu juta pengguna baru dari dompet seluler setiap bulannya di Indonesia, di mana hal ini menunjukkan adanya tingkat pertumbuhan yang signifikan di pasar Asia Tenggara.

 

CEO MRC Julie Fergerson mengatakan, dengan jumlah penduduk yang besar dan dan berkembang pesatnya transaksi online, Indonesia telah muncul sebagai pusat pertumbuhan ekonomi digital. "Seiring dengan semakin ketatnya persaingan di pasar e-commerce Indonesia, bisnis online harus beradaptasi dengan cepat terhadap perubahan perilaku konsumen sekaligus memproteksi diri mereka dan pelanggan mereka dari ancaman kejahatan dunia maya yang terus meningkat," tutur dia.

InfoBrief IDC yang telah dirilis antara lain menyoroti bagaimana cara mencegah adanya transaksi penipuan yang dihadapi perusahaan-perusahaan di Indonesia. Dengan adanya proyeksi ini, 2C2P Indonesia mengambil sikap untuk terus memperkuat komitmen guna melindungi merchant dan juga konsumen. Hal ini sejalan dengan strategi perusahaan dengan memperkuat tim kepemimpinan di Indonesia untuk memperluas dan melokalkan kapabilitas penjualan, produk, dan jaringan di seluruh Nusantara.

Country Head 2C2P Indonesia Adi Nugroho, seiring dengan pertumbuhan ecommerce dan metode pembayaran yang beragam, pihaknya perlu terus menyempurnakan langkah-langkah pencegahan dan mengimplementasikan pembaruan secara berkala untuk memitigasi ancaman terbaru guna melindungi merchant dan konsumen. 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement