Selasa 07 Mar 2023 17:30 WIB

Bursa Berjangka Komoditi, Mendag: Pahami Risikonya

Bursa berjangka komoditi dinilai menggiurkan bagi mereka yang ingin untung cepat.

 Menteri Perdagangan Zulkifli Hasan. Menteri Perdagangan (Mendag) Zulkifli Hasan mengingatkan, pentingnya memahami literasi perdagangan berjangka komoditi agar nasabah siap dengan risiko yang dihadapi.
Foto: AP/Achmad Ibrahim
Menteri Perdagangan Zulkifli Hasan. Menteri Perdagangan (Mendag) Zulkifli Hasan mengingatkan, pentingnya memahami literasi perdagangan berjangka komoditi agar nasabah siap dengan risiko yang dihadapi.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menteri Perdagangan (Mendag) Zulkifli Hasan mengingatkan, pentingnya memahami literasi perdagangan berjangka komoditi agar nasabah siap dengan risiko yang dihadapi.

"Segala hal apa pun dan risikonya dan manfaatnya dia paham betul. Kalau enggak paham jangan sampai kayak saya dulu, berharap kalau untungnya banyak, tiap bulan akan banyak terus. Padahal kan tiap usaha di mana pun pasti ada risikonya," ujar Zulkifli saat pembukaan "Bulan Literasi Perdagangan Berjangka Komoditi 2023" di Jakarta, Selasa (7/3/2023).

Baca Juga

Zulkifli mengatakan, nasabah atau calon nasabah harus memahami bisnis komoditi yang sedang digeluti. Mengenal risiko, tempat serta latar belakang komoditi yang akan dipercaya menjadi wadah investasi.

Bulan Literasi Perdagangan Berjangka Komoditi 2023" menjadi momen yang penting untuk kembali mengingatkan masyarakat bahwa perdagangan komoditi memiliki untung dan rugi yang sama besarnya.

"Sekali lagi, bulan literasi itu untuk memberikan pemahaman yang utuh pada masyarakat atau konsumen agar memahami secara benar bidang ini," kata Zulkifli.

Plt Kepala Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) Didid Noordiatmoko mengatakan, perdagangan berjangka komoditi dinilai cukup menggiurkan bagi masyarakat yang ingin mendapat untung cepat. Menurut Didid, hal tersebut tidak sepenuhnya benar sehingga banyak nasabah yang terjebak pada investasi ilegal, salah satunya adalah robot trading yang marak di 2022.

"Ini karena terbatasnya pemahaman masyarakat terhadap perdagangan berjangka komoditi, selain itu, masih terdapat pelaku usaha yang tidak taat, sebab masih ada celah di peraturan yang ada," kata Didid.

Selama 2022, Bappebti mencatat sejumlah pengaduan masyarakat terkait perdagangan berjangka komoditi. Angka ini meningkat dibandingkan pada 2021.

Didid mengatakan, terdapat dua jenis pengaduan dari masyarakat yakni investasi legal dan investasi kepada pialang tetapi tidak memahami cara kerja perdagangan berjangka komoditi.

"Selalu yang digaungkan adalah untung 10 persen per bulan. Investasi di mana pun tidak ada yang untungnya tetap. Ini yang akan kami sampaikan dan dalam investasi selalu melekat risiko kerugian atau keuntungan. Jangan sampai saat rugi baru mengadu," ujar Didid.

 

sumber : ANTARA
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement