Jumat 17 Feb 2023 16:12 WIB

Rupiah Merosot Seiring Kemungkinan Kenaikan Suku Bunga The Fed

Dolar AS menguat didorong pernyataan terkait kenaikan suku bunga The Fed.

Petugas menunjukan uang pecahan Rupiah dan dolar AS di gerai penukaran mata uang asing VIP (Valuta Inti Prima) Money Changer, Jakarta, Selasa (4/10/2022). Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada akhir pekan merosot seiring dengan kemungkinan kenaikan suku bunga Bank Sentra Amerika Serikat (AS),The Fed.
Foto: ANTARA/Muhammad Adimaja
Petugas menunjukan uang pecahan Rupiah dan dolar AS di gerai penukaran mata uang asing VIP (Valuta Inti Prima) Money Changer, Jakarta, Selasa (4/10/2022). Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada akhir pekan merosot seiring dengan kemungkinan kenaikan suku bunga Bank Sentra Amerika Serikat (AS),The Fed.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada akhir pekan merosot seiring dengan kemungkinan kenaikan suku bunga Bank Sentra Amerika Serikat (AS),The Fed. Kurs rupiah pada Jumat (17/2/2023) ditutup melemah 51 poin atau 0,34 persen ke posisi Rp 15.210 per dolar AS dibandingkan posisi pada penutupan perdagangan sebelumnya Rp 15.159 per dolar AS.

"Rupiah tertekan oleh dolar AS yang kembali menguat setelah data Producer Price Index (Indeks Harga Produsen) AS yang lebih tinggi dari perkiraan," kata Analis DCFX Futures Lukman Leong saat dihubungi di Jakarta.

Baca Juga

Lukman mengatakan dolar AS juga menguat setelah ada pernyataan hawkish dari Presiden Fed St Louis Fed Bullard terkait kemungkinan kenaikan 50 basis poin (bps) pada pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) berikutnya. Dolar melonjak mencapai level tertinggi enam minggu terhadap sekeranjang mata uang di sesi Asia pada Jumat sore, karena serangkaian data ekonomi yang tangguh dari Amerika Serikat meningkatkan ekspektasi pasar bahwa lebih banyak kenaikan suku bunga akan segera terjadi. 

Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan bahwa indeks harga produsen AS untuk permintaan akhir rebound 0,7 persen pada Januari, kenaikan terbesar sejak Juni, setelah turun 0,2 persen pada Desember. Selain itu, klaim pengangguran awal AS turun 1.000 menjadi 194.000 dalam pekan yang berakhir 11 Februari.

Pasar sekarang memperkirakan suku bunga AS mencapai puncaknya di 5,28 persen pada Juli dan tetap di atas 5,0 persen hingga akhir tahun.

Lukman menuturkan rupiah berpotensi melemah walau didukung oleh beberapa data ekonomi domestik yang kuat akhir-akhir ini seperti perekonomian Indonesia pada tahun 2022 yang berhasil tumbuh 5,31 persen dibanding tahun sebelumnya (year on year/yoy).

Inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) menurun secara tahunan menjadi 5,28 persen year on year (yoy) pada Januari 2023, dari 5,51 persen yoy pada Desember 2022. Di samping itu, Bank Indonesia (BI) mempertahankan suku bunga acuannya atau BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) sebesar 5,75 persen, yang dinilai memadai untuk menekan inflasi, sehingga tidak perlu ada kenaikan.

BI memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2023 akan cenderung tumbuh lebih tinggi atau bias ke atas dalam kisaran 4,5-5,3 persen, didorong kenaikan ekspor dan semakin membaiknya permintaan domestik khususnya konsumsi swasta.

Rupiah pada pagi hari dibuka menurun ke posisi Rp 15.187 per dolar AS. Sepanjang hari rupiah bergerak di kisaran Rp 15.179 per dolar AS hingga Rp 15.224 per dolar AS. Sementara itu, kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada Jumat melemah ke posisi Rp 15.199 per dolar AS dibandingkan posisi sebelumnya Rp 15.176 per dolar AS.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement