Rabu 15 Feb 2023 15:58 WIB

Kondisi Ini Berpotensi Kurangi Persentase Ekspor Batu Bara Indonesia

Produksi ekspor batu bara India dapat membuat pangsa Indonesia berkurang.

Rep: Rahayu Subekti/ Red: Friska Yolandha
Alat berat merapikan tumpukan batu bara di area pengumpulan Dermaga Batu bara Kertapati milik PT Bukit Asam Tbk di Palembang, Sumatera Selatan, Selasa (4/1/2022). Badan Pusat Statistik (BPS) mengingatkan terdapat sejumlah kondisi yang akan mempengaruhi persentase ekspor batu bara Indonesia.
Foto: Antara/Nova Wahyudi
Alat berat merapikan tumpukan batu bara di area pengumpulan Dermaga Batu bara Kertapati milik PT Bukit Asam Tbk di Palembang, Sumatera Selatan, Selasa (4/1/2022). Badan Pusat Statistik (BPS) mengingatkan terdapat sejumlah kondisi yang akan mempengaruhi persentase ekspor batu bara Indonesia.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Badan Pusat Statistik (BPS) mengingatkan terdapat sejumlah kondisi yang akan mempengaruhi persentase ekspor batu bara Indonesia. Deputi Bidang Statistik Produksi BPS M Habibullah mengungkapkan hal tersebut berkaitan dengan beberapa peristiwa internasional. 

“Peristiwa pertama, Cina telah membuka kembali keran impor batu bara dari Australia,” kata Habibullah dalam konferensi pers di Gedung BPS, Rabu (15/2/2023).

Baca Juga

Lalu peristiwa internasional kedua yang dapat mempengaruhi pangsa pasar ekspor batu bara Indonesia yakni India yang sudah mulai memacu produksi batu bara dalam negeri. Upaya India tersebut untuk memenuhi kebutuhan batu bara domestiknya.

“Kedua hal ini tentu berpotensi mengurangi pangsa batu bara dari negara Indonesia,” ujar Habibullah.

Dia menambahkan proyeksi pertumbuhan ekonomi beberapa negara mitra dagang utama Indonesia juga akan mempengaruhi pada kinerja perdagangan internasional Indonesia. Kecuali Cina dan Jepang, Habibullah mengatakan, pertumbuhan ekonomi beberapa negara mitra dagang seperti Amerika Serikat, India, dan Korea Selatan 2023 diproyeksikan akan lebih rendah dibandingkan tahun lalu.

“Kinerja ekonomi mitra dagang ini akan berpengaruh terhadap permintaan akan komoditas unggulan ekspor Indonesia,” tutur Habibullah. 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement