Rabu 21 Dec 2022 12:52 WIB

Rights Issue BSI Jadi Bahan Bakar untuk Ekspansi Bisnis

BSI memiliki keunggulan sebagai bank syariah terbesar dari segi aset dan jaringan.

Rep: Lida Puspaningtyas/ Red: Nidia Zuraya
Suasana gedung Bank Syariah Indonesia di Jakarta (ilustrasi). Penerbitan saham baru dalam rights issue PT Bank Syariah Indonesia Tbk atau BSI (BRIS) diyakini akan menjadi bahan bakar perusahaan untuk menggenjot pembiayaan pada masa mendatang.
Foto: Republika/Putra M. Akbar
Suasana gedung Bank Syariah Indonesia di Jakarta (ilustrasi). Penerbitan saham baru dalam rights issue PT Bank Syariah Indonesia Tbk atau BSI (BRIS) diyakini akan menjadi bahan bakar perusahaan untuk menggenjot pembiayaan pada masa mendatang.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Penerbitan saham baru dalam rights issue PT Bank Syariah Indonesia Tbk atau BSI (BRIS) diyakini akan menjadi bahan bakar perusahaan untuk menggenjot pembiayaan pada masa mendatang. Aksi korporasi tersebut dinilai akan menjaga kinerja BSI dengan baik ke depannya, di tengah pertumbuhan ekonomi yang diproyeksi melambat pada 2023.

Peneliti ekonomi syariah dari Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Fauziah Rizki Yuniarti mengatakan bahwa aset dan modal merupakan bensin bank untuk melaju kencang. Apabila bank memiliki modal yang kecil, maka ruang gerak inovasinya terbatas.  

Baca Juga

"Ruang gerak produk yang bisa ditawarkan jadi terbatas," katanya dalam keterangan, Rabu (21/12/2022).

Fauziah melanjutkan, dari sisi permintaan bank syariah memiliki untapped market yang terbilang besar. Selain itu bonus demografi usia produktif, likuiditas golongan menengah ke atas, dan gaya hidup halal akan menjadi stimulus positif bagi kinerja bank syariah.

Menurutnya, dari sisi supply, BSI sebagai bank syariah terbesar juga semakin agresif memasarkan produk dan jasa perbankannya. Tingginya pasar yang belum tergarap perbankan syariah tersebut tercermin dalam indeks inklusi keuangan syariah yang belum lama ini dipublikasikan oleh Otoritas Jasa Keuangan.

"Meskipun naik dari 9,1 persen pada 2019 menjadi 12,12 persen pada 2022, akses masyarakat terhadap produk finansial berbasis syariah masih jauh tertinggal," katanya.

Sebagai gambaran, secara total industri, inklusi keuangan tahun 2022 mencapai 85,1 persen. Artinya sudah sebagian besar masyarakat di Indonesia memiliki akses terhadap layanan keuangan konvensional.

Selain pasar yang belum tergarap, BSI juga memiliki keunggulan sebagai bank syariah terbesar dari segi aset dan jaringan. Hingga September 2022, bank hasil gabungan anak usaha Bank Mandiri, BNI, dan BRI ini memiliki total aset senilai Rp 280 triliun, jauh di atas bank syariah lainnya.

Rencana aksi penambahan modal melalui skema rights issue BSI memasuki tahapan baru. Dalam prospektus yang diterbitkan pada 7 Desember 2022, BSI merencanakan untuk melakukan Penambahan Modal dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMHMETD) I dengan menerbitkan sebanyak-banyaknya sebesar 4,99 miliar Saham Baru Seri B, dengan nilai nominal Rp 500 setiap saham.

 Harga pelaksanaan PMHMETD I atau rights issue BRIS sebesar Rp 1.000 per unit saham. Dalam prospektus, BSI menyatakan seluruh dana hasil PMHMETD I, setelah dikurangi seluruh biaya-biaya emisi yang menjadi kewajiban Perseroan, akan digunakan untuk penyaluran pembiayaan dalam mendukung pertumbuhan bisnis Perseroan.

 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement