Selasa 11 Oct 2022 08:49 WIB

Harga Emas Anjlok Hingga 34,1 Dolar Akibat Terus Menguatnya Dolar

Harga emas tiga hari ini alami tekanan menyusul data inflasi di Amerika Serikat

Karyawan menunjukkan logam mulia yang dijual di Galeri 24 Pegadaian, Jakarta. Emas turun tajam pada akhir perdagangan Senin (Selasa pagi WIB), memperpanjang kerugian untuk sesi ketiga berturut-turut, tertekan dolar yang menguat untuk sesi keempat beruntun saat investor memperkirakan data inflasi pekan ini kemungkinan akan menunjukkan bahwa tekanan harga tetap tinggi.
Foto: Prayogi/Republika.
Karyawan menunjukkan logam mulia yang dijual di Galeri 24 Pegadaian, Jakarta. Emas turun tajam pada akhir perdagangan Senin (Selasa pagi WIB), memperpanjang kerugian untuk sesi ketiga berturut-turut, tertekan dolar yang menguat untuk sesi keempat beruntun saat investor memperkirakan data inflasi pekan ini kemungkinan akan menunjukkan bahwa tekanan harga tetap tinggi.

REPUBLIKA.CO.ID, CHICAGO -- Emas turun tajam pada akhir perdagangan Senin (Selasa pagi WIB), memperpanjang kerugian untuk sesi ketiga berturut-turut, tertekan dolar yang menguat untuk sesi keempat beruntun saat investor memperkirakan data inflasi pekan ini kemungkinan akan menunjukkan bahwa tekanan harga tetap tinggi.

Kontrak emas paling aktif untuk pengiriman Desember di divisi Comex New York Exchange, anjlok 34,10 dolar AS atau 1,99 persen menjadi ditutup pada 1.675,20 dolar AS per ounce, setelah diperdagangkan menyentuh level tertinggi sesi di 1.707,40 dolar AS dan terendah sesi di 1.672,50 dolar AS.

Emas berjangka jatuh 11,5 dolar AS atau 0,67 persen menjadi 1.709,30 dolar AS pada Jumat (7/10), setelah relatif tak berubah di 1.720,80 dolar AS pada Kamis (6/10), dan tergelincir 9,70 dolar AS atau 0,56 persen menjadi 1.720,80 dolar AS pada Rabu (5/10).

Dolar AS menguat untuk sesi keempat berturut-turut pada Senin (10/10), dengan indeks dolar, yang mengukur greenback terhadap enam mata uang utama lainnya, naik 0,31 persen menjadi 113.1450 ketika pelaku pasar menunggu laporan inflasi utama AS.

 

Pedagang sedang menunggu indeks harga konsumen AS untuk September yang akan dirilis pada Kamis (13/10). Investor khawatir bahwa data dapat meningkatkan tekanan pada Federal Reserve untuk terus menaikkan suku bunga secara agresif, kemungkinan kenaikan suku bunga 75 basis poin lagi pada pertemuan bank sentral November.

Emas juga melihat sedikit permintaan safe haven di tengah memburuknya kondisi geopolitik di Eropa dan Asia. Dolar, di sisi lain, naik tajam setelah laporan pekerjaan pada Jumat (7/10), dan tetap terjepit di dekat level tertinggi 20 tahun.

Kekhawatiran eskalasi dalam perang Rusia-Ukraina meningkat setelah ledakan jembatan penting antara Rusia dan Krimea, yang Presiden Vladimir Putin menyalahkan Ukraina.

Ketegangan di semenanjung Korea juga meningkat setelah Korea Utara menembakkan dua rudal balistik pada Minggu (9/10), menyusul latihan militer AS di wilayah tersebut. Berita itu tidak banyak mendorong emas, mengingat dolar sebagian besar telah mengambilalih emas sebagai pilihan tempat investasi aman tahun ini.

Logam mulia lainnya, perak untuk pengiriman Desember turun 64 sen atau 3,16 persen, menjadi ditutup pada 19,615 dolar AS per ounce. Platinum untuk pengiriman Januari turun 22,10 dolar AS atau 2,41 persen, menjadi ditutup pada 895,80 dolar AS per ounce.

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement