Jumat 23 Sep 2022 00:39 WIB

Masyarakat Makin Sadar Kesehatan, Produsen Farmasi Wajib Inovasi

Pelaku usaha farmasi perlu lebih inovatif memilih bahan dengan pengembangan sains.

Aneka jenis suplemen (Ilustrasi). Menurut survei Unicef, 68 persen masyarakat Indonesia mengakui bahwa mereka lebih memerhatikan kesehatan pribadi dan kesehatan orang-orang terdekatnya dengan 40 persen dari masyarakat Indonesia yang mengonsumsi lebih banyak suplemen untuk meningkatkan kesehatan fisik mereka selama beberapa tahun terakhir.
Foto: Republika/Reiny Dwinanda
Aneka jenis suplemen (Ilustrasi). Menurut survei Unicef, 68 persen masyarakat Indonesia mengakui bahwa mereka lebih memerhatikan kesehatan pribadi dan kesehatan orang-orang terdekatnya dengan 40 persen dari masyarakat Indonesia yang mengonsumsi lebih banyak suplemen untuk meningkatkan kesehatan fisik mereka selama beberapa tahun terakhir.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Dampak dari Covid-19 yang telah terjadi beberapa tahun terakhir tak dipungkiri telah memengaruhi perilaku masyarakat yang lebih memerhatikan kesehatannya. Menurut survei, 68 persen masyarakat Indonesia mengakui bahwa mereka lebih memerhatikan kesehatan pribadi dan kesehatan orang-orang terdekatnya dengan 40 persen dari masyarakat Indonesia yang mengonsumsi lebih banyak suplemen untuk meningkatkan kesehatan fisik mereka selama beberapa tahun terakhir.

Tak hanya kesehatan fisik, masyarakat Indonesia juga menganggap bahwa kesehatan mental juga penting. Sebanyak 59 persen konsumen Indonesia mengakui lebih fokus terhadap kesehatan mental selama masa Covid-19. 

Baca Juga

Untuk mengelola kesehatan mental tersebut, 40 persen konsumen Indonesia juga mengatakan bahwa mereka mengonsumsi suplemen yang berkaitan dengan kesehatan mental yang berdampak pada tingkat stress dan juga kualitas tidur mereka.

Berdasarkan survei di atas, permintaan atas suplemen kesehatan, baik fisik maupun mental meningkat di beberapa tahun terakhir. Adapun para pelaku usaha farmasi dan produsen panganan sehat dituntut untuk lebih inovatif dalam pemilihan bahan-bahan yang dilatarbelakangi oleh pengembangan sains.

 

Dr Rimbawan dari Departemen Gizi Masyarakat Universitas IPB mengatakan bahwa komponen fungsional yang memiliki manfaat kesehatan lebih dari fungsi utamanya kerap disebut sebagai panganan fungsional. Ini telah menjadi istilah yang umum digunakan oleh para pelaku komoditas dan industri. 

“Meskipun ada manfaat kesehatan, namun panganan fungsional tidak boleh mengubah perilaku makan kita dan yang dikonsumsi juga tetap harus dalam jumlah wajar,” tambah Rimbawan, Kamis (22/9/2022). 

Bagi para pelaku bisnis, Dr Rimbawan juga memiliki tips dalam memilih functional ingredient. Salah satunya dengan meminta basis data pemasok selengkap mungkin dan yang penting adalah teruji secara klinis. 

“Tentunya, uji klinis juga harus dilakukan di Indonesia agar sesuai dengan metabolisme dan fisik orang Indonesia yang mungkin berbeda dengan negara lain. Apabila hal ini sudah dilakukan, maka tentunya ini akan bisa diakomodir,” tambah Rimbawan. 

Kerry, perusahaan yang bergerak di industri makanan sehat mengungkapkan terus mengembangkan produk makanan yang didukung bahan-bahan kredibel dan ditunjang oleh pengembangan sains yang inovatif. Kerry menghadirkan ProActive Health dimana setiap merek dari ProActive Health tersebut menawarkan pengelolaan kesehatan dengan nutrisi positif yang divalidasi melalui penelitian klinis.

"Semua merek dibawah ProActive Health dapat digunakan oleh pelaku bisnis untuk mengembangkan inovasi dibidang suplemen," kata Jackie Ng, Strategic Marketing Director Applied Health and Nutrition dari Kerry APMEA.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement