Senin 15 Aug 2022 12:56 WIB

Kadin: Digitalisasi Tingkatkan Daya Saing Usaha di Masa Transisi Covid-19

Pada saat yang sama, digitalisasi meningkatkan efisiensi biaya operasional.

Ketua Umum KADIN Arsjad Rasjid. Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) Arsjad Rasjid mengatakan, digitalisasi dapat meningkatkan peluang dan daya saing perusahaan dalam menghadapi kondisi perekonomian global pada masa transisi pemulihan Covid-19.
Foto: REPUBLIKA/ABDAN SYAKURA
Ketua Umum KADIN Arsjad Rasjid. Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) Arsjad Rasjid mengatakan, digitalisasi dapat meningkatkan peluang dan daya saing perusahaan dalam menghadapi kondisi perekonomian global pada masa transisi pemulihan Covid-19.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) Arsjad Rasjid mengatakan, digitalisasi dapat meningkatkan peluang dan daya saing perusahaan dalam menghadapi kondisi perekonomian global pada masa transisi pemulihan Covid-19.

Menurutnya, di mana ada tantangan, di situ pasti ada peluang bisnis. Peluang ini dapat diraih melalui beberapa hal, salah satunya melalui otomatisasi atau digitalisasi dalam meningkatkan produktifitas. Selain juga inovasi meningkatkan nilai tambah barang dan jasa.

Baca Juga

"Agar perusahaan dapat lebih berdaya saing dan pada saat yang sama meningkatkan efisiensi biaya operasional dalam jangka panjang," ujar Arsjad Rasjid saat dihubungi di Jakarta, Senin (15/8/2022).

Ketua Kadin itu juga menambahkan bahwa selain digitalisasi, perusahaan juga dituntut untuk mengadopsi nilai nilai ESG (Environmental, Social and Governance) dalam meningkatkan nilai perusahaan. Perusahaan yang telah melakukan inisiatif ESG menikmati banyak manfaat. Antara lain 15-30 persen harga lebih tinggi bagi produk dan layanan yang diproduksi secara berkelanjutan di seluruh sektor business to consumer (B2C) dan business to business (B2B) pertumbuhan produk berkelanjutan 50 persen lebih cepat, dan peningkatan return on capital.

Di tahun 2022 ini, Indonesia masih menghadapi banyak ketidakpastian karena Covid-19 belum berakhir. Kasus penyebaran Covid-19 secara bertahap menurun pada 2022 dan berbagai pembatasan dilonggarkan, memperkuat harapan untuk pemulihan ekonomi.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal ke-2 merupakan sinyal bahwa negara ini berangsur-angsur pulih karena konsumsi rumah tangga merupakan pendorong utama pertumbuhan ekonomi dan produk domestik bruto (PDB) yang menguat.

Namun, ketegangan geopolitik akibat invasi Rusia ke Ukraina berdampak pada Indonesia di dalam negeri di banyak bidang. Pada saat yang sama, Indonesia dan bisa dibilang sebagian besar negara lain di dunia sedang menghadapi tantangan multidimensi dalam menghidupkan kembali sektor kesehatan setelah pandemi, memperkuat ketahanan pangan nasional, dan keamanan energi nasional serta melindungi stabilitas keuangan Indonesia.

Dalam menghadapi ketidakpastian ekonomi ini, dunia usaha Indonesia harus dapat beradaptasi untuk merespons situasi tersebut. Di saat seperti ini perusahaan dituntut untuk terus mengoptimalkan bisnis mereka.

"Tentunya disamping itu, kolaborasi inklusif antara pemerintah dan swasta sangat dibutuhkan karena dunia usaha tidak bisa menyelesaikan masalah ini sendirian," kata Arsjad Rasjid.

 

sumber : ANTARA
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement