Rabu 22 Jun 2022 13:35 WIB

Empat Perusahaan Punya Peluang Ekspor Ayam ke Singapura

Kualitas dan kuantitas ayam Indonesia dinilai sudah sangat siap memasuki pasar global

Rep: Dedy Darmawan Nasution/ Red: Nidia Zuraya
Peternak memberikan pakan ke ayam di peternakan (ilustrasi),
Foto: Antara/Ampelsa
Peternak memberikan pakan ke ayam di peternakan (ilustrasi),

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Industri perunggasan berharap agar rencana ekspor ayam perdana ke Singapura segera terealisasi sebelum negara lain mendahului Indonesia. Kualitas maupun kuantitas ayam dari Indonesia dinilai sudah sangat siap memasuki pasar global.

Ketua Gabungan Perusahaan Pembibitan Unggas (GPPU), Achmad Dawami, mengungkapkan, saat ini rencana ekspor ayam tersebut masih dalam proses government to governement (G2G) karena tim dari Singapura masih melakukan kunjungan ke Indonesia hingga pekan ini.

Baca Juga

"Begitu semua selesai, kita berharap supaya disepakati semua sampai harganya. Kalau momentum kurang pas, nanti bisa diserobot sama negara lain," kata Dawami kepada Republika.co.id, Rabu (22/6/2022).

Dawami menuturkan tidak mengetahui detail perusahaan mana saja yang siap melakukan ekspor. "Tapi sepertinya ada empat atau lima perusahaan. Mungkin Japfa, Charoen Phokpand, Sreeya Sewu, dan mungkin Malindo karena dia perusahaan Malaysia. Satu lagi tidak tahu tapi ada beberapa kemungkinan karena sekarang sudah banyak perusahaan," ujarnya menambahkan.

 

Lebih lanjut, Dawami mengaku industri perunggasan sudah sangat siap melakukan ekspor karena kualitas dan harga yang cukup bersaing dengan Malaysia.

Seperti diketahui, Singapura mencari alternatif impor ayam lantaran Malaysia menyetop ekspor ayamnya sejak awal Juni lalu. Belakangan diketahui Malaysia mulai membuka sebagian ekspornya.

Adapun soal produksi, Dawami menjelaskan, Indonesia telah mengalami surplus ayam sehingga akan sangat membantu para peternak. Harga ayam beberapa tahun terakhir terus mengalami kejatuhan lantaran produksi yang terus berlimpah.

Pemerintah melalui Kementan lantas menempuh langah pemusnahan bibit ayam yang diproduksi oleh perusahaan-perusahaan unggas terintegrasi demi mengurangi surplus ayam.

Mengutip data Kementerian Pertanian, periode Januari-Mei 2022 produksi daging ayam ras diperkirakan mencapai 1,74 juta ton sedangkan kebutuhan hanya 1,38 juta ton. Dari proyeksi tersebut, terdapat surplus ayam yang bisa mencapai 357 ribu ton.

Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Nasrullah, kepada Republika.co.id, mengatakan, Tim SAF Singapura saat ini sedang melakukan peninjauan langsung terhadap perusahaan-perusahaan calon eksportir.

Ia tak menjelaskan lebih detail perusahaan yang sedang ditinjau. Adapun soal kebutuhan impor ayam Singapura yang bisa dipenuhi dari Indonesia sedang dibahas secara business to business (B2B).

Direktur Kesehatan Masyarakat Veteriner, Kementan, Syamsul Ma'arif, menambahkan, peninjauah langsung itu akan dilakukan hingga Kamis (23/6/2022). "Setelah itu kita menunggu keputusan mereka," katanya.

 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement