Jumat 29 Apr 2022 16:17 WIB

Operasi Pertamina Dipastikan Aman, Fenomena di Teluk Bima Bukan Akibat Tumpahan Minyak

Pertamina Patra Niaga memastikan operasional di Fuel Terminal Bima tetap normal

Pekerja menata tabung elpiji 3 kilogram yang kosong untuk diisi kembali di Stasiun Pengisian dan Pengangkutan Bulk Elpiji (SPPBE) milik Mayangkara Group di Kota Bitar, Jawa Timur, Jumat (16/7/2021). Pertamina Marketing Region JATIMBALINUS memprediksi konsumsi elpiji di wilayah Jawa Timur naik hingga 10 persen selama masa PPKM Darurat, menjadi sekitar 4.807 Metrik Ton (MT) dibandingkan konsumsi pada kondisi normal yakni sekitar 4.370 MT yang di prediksi akbat tingginya aktivitas masyarakat di rumah.
Foto: ANTARA/IRFAN ANSHORI
Pekerja menata tabung elpiji 3 kilogram yang kosong untuk diisi kembali di Stasiun Pengisian dan Pengangkutan Bulk Elpiji (SPPBE) milik Mayangkara Group di Kota Bitar, Jawa Timur, Jumat (16/7/2021). Pertamina Marketing Region JATIMBALINUS memprediksi konsumsi elpiji di wilayah Jawa Timur naik hingga 10 persen selama masa PPKM Darurat, menjadi sekitar 4.807 Metrik Ton (MT) dibandingkan konsumsi pada kondisi normal yakni sekitar 4.370 MT yang di prediksi akbat tingginya aktivitas masyarakat di rumah.

REPUBLIKA.CO.ID, BIMA--PT Pertamina Patra Niaga regional Jatimbalinus berkomitmen untuk terus mendistribusikan kebutuhan BBM dan LPG kepada masyarakat khususnya di provinsi Nusa Tenggara Barat melalui 3 Terminal BBM yaitu Integrated Terminal Ampenan, Fuel Terminal Badas dan Fuel Terminal Bima.

Menyikapi kejadian fenomena alam di Teluk Bima kemarin, Pertamina Patra Niaga memastikan operasional di Fuel Terminal Bima tetap berjalan normal, tidak ada kebocoran pipa seperti yang diisukan oleh beberapa pihak. Status operasional di Fuel Terminal Bima juga telah mendapatkan PROPER biru dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, ini berarti bahwa Pertamina sudah patuh terhadap seluruh regulasi untuk pengelolaan lingkungan.

Baca Juga

 “Hingga saat ini, kami memastikan operasional di Fuel Terminal Bima berjalan lancar, tidak ada kegagalan operasi ataupun kebocoran pipa" ujar Area Manager Communication & CSR Pertamina Patra Niaga Jatimbalinus, Deden Mochammad Idhani.

Pihak Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Bima sudah melakukan pengecekan langsung ke lapangan (27/4/2022),  dipimpin oleh Kepala Dinas, Jaidun “Dugaan sementara berasal dari lumut atau ganggang laut. Untuk memastikan apa sebenarnya yang terjadi dan apa penyebab berkaitan dengan fenomena tersebut, kami telah mengambil sampel air laut dan gumpalan tersebut untuk dianalisa lebih lanjut di laboratorium,” dalam keterangannya kepada wartawan.  Berdasarkan hasil pengamatan bahwa gumpalan yang terjadi di Teluk Bima bukan berasal dari tumpahan minyak.

Sebagai tindak lanjut, hari ini juga (28/4) dilakukan rapat koordinasi antar pihak yang dihadiri Asdep Kemenko Marves, KLHK, DLHK Propinsi NTB, DLHK Kabupaten Bima, Pertamina serta team kementrian terkait, menegaskan kembali bahwa hasil dugaan sementara menunjukkan bahwa kejadian di Teluk Bima adalah fenomena alam diduga “sea snot” (lendir laut).

"Dugaan sementara fenomena alam yang terjadi di teluk Bima kemarin adalah lumut atau ganggang dan tidak ada unsur pencemaran dari minyak. Namun kami belum bisa menyimpulkan secara pasti karena masih menunggu hasil laboratorium yang hari ini diharapkan bisa keluar hasilnya,” ujar Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi NTB, Madani Mukarom.

"Sebagai perusahaan dengan unit operasi yang ber/ada di dekat lokasi kejadian, Pertamina  akan terus bekerjasama dan berkoordinasi dengan para pihak terkait.  Dimohon kepada para pihak untuk mendapatkan konfirmasi dari yang berwenang dalam hal ini Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Bima," kata Deden.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement