Rabu 30 Mar 2022 14:10 WIB

Sukses Benahi Telkom, Erick Sempat Disebut Menteri Ngawur

Erick meminta petinggi BUMN tidak anti perubahan di era disrupsi dan teknologi

Rep: Muhammad Nursyamsi/ Red: Gita Amanda
Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir menegaskan komitmennya dalam mendorong transformasi digitalisasi di tubuh BUMN.
Foto: Antara/Dhemas Reviyanto
Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir menegaskan komitmennya dalam mendorong transformasi digitalisasi di tubuh BUMN.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir menegaskan komitmennya dalam mendorong transformasi digitalisasi di tubuh BUMN. Hal ini dia lakukan sejak awal menjabat sebagai orang nomor satu di BUMN.

"Bicara digitalisasi, BUMN langsung bergerak. Di awal-awal (menjabat) saya pernah kritisi Telkom sampai dibilang ini menteri ngawur, BUMN bukan dijaga justru dikritisi," ujar Erick dalam kuliah umum bertajuk "Milenial dan Digital Mendorong Pertumbuhan Ekonomi Nasional" di Universitas Hasanuddin, Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel), Rabu (30/3).

Baca Juga

Sentilan keras dilontarkan Erick pada awal 2020, yang mana Erick meminta petinggi BUMN tidak anti perubahan di era disrupsi dan teknologi yang begitu pesat. Erick menilai kemajuan teknologi menjadi sesuatu yang tidak bisa dihindari. Erick menyinggung Telkom yang justru mengandalkan keuntungan dari anak usahanya yakni Telkomsel. Kata Erick, industri telekomunikasi sudah jauh berubah dengan tidak sekadar menjual layanan pesan suara, melainkan juga data. Erick menilai dengan infrastruktur yang dimiliki, Telkom seharusnya bisa mengembangkan bisnisnya lebih masif.

"Telkomsel deviden, pendapatan Telkomsel digabung ke Telkom hampir 70 persen. Mendingan nggak ada Telkom, ya langsung saja dimiliki Kementerian BUMN, devidennya jelas," ucap Erick kala itu.

Erick meminta Telkom melirik peluang bisnis baru seperti menghimpun data. Erick menyebut big data merupakan potensi besar dan disebut-sebut sebagai the new oil. Erick mengaku sempat terpaksa menggunakan layanan cloud dari Alibaba yakni Alicloud saat Asian Games lantaran tak ada BUMN yang mampu memenuhinya.

"Kita mau Telkom ke depan berubah ke arah data base, big data, cloud, masa cloud dipegang Alicloude. Big data dan cloud bisa menjadi sebuah bisnis, jangan diambil lagi oleh asing," ungkap Erick.

Kritikan keras Erick membuat saham Telkom turun. Ia pun mendapat begitu banyak cibiran. Meski begitu, Erick tak goyah dan tetap pada pendiriannya bahwa Telkom harus berubah.

"(Kritikan) itu bagian saya dalam mendorong supaya mengubah pola pikir dan model bisnis (Telkom)," ucap Erick melanjutkan kuliah umum di Unhas.

Bagi Erick, pengembangan infrastruktur kini tak hanya sekadar pembangunan infrastruktur seperti bandara, pelabuhan, dan jalan tol, melainkan juga pembangunan infrastruktur digital.

Oleh karena, Erick menugaskan Telkom untuk fokus pada infrastruktur digital dan B to B seperti pembangunan menara, data center, hingga cloud, sementara Telkomsel akan fokus ke B to C sebagai digital company seperti Metaverse, Games Finance, kreator konten, dan startup lokal. Erick menyebut kritikan keras pada dua tahun lalu kini mulai terlihat hasilnya.

 

"Alhamdulillah setelah recofusing Telkom, profitabilitas Telkom naik Rp 28 triliun, valuasi sekarang Rp 470 triliun, itu terbesar sepanjang sejarah Telkom. Artinya korporasi jalan dan pembangunan infrastruktur jalan. Tidak mungkin pembangunan infrastruktur berjalan tanpa perusahaan yang sehat," kata Erick menambahkan.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement